Edisi Persebaran Pembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia (1)


Edisi Persebaran Pembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia (1)

Kadek Fendy Sutrisna

7 September 2011

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

 

Melihat potensi tenaga air yang cukup besar sebagai pembangkit listrik energi terbarukan yang bisa dikembangkan di Indonesia, saya tertarik untuk merangkum sebuah artikel tentang persebaran PLTA Indonesia di blog ini. 

PLTA di Pulau SUMATRA

PLTA ANGKUP

PLTA PEUSANGAN terdapat di Kecamatan Laut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam. PLTA ini di desain dengan 2 buah turbin air, yaitu Peusangan I (2 x 22,1 MWatt) dan Peusangan II (2 x 21,2 MWatt) dan dihubungkan dengan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) ke jaringan trans Sumatera dari Gardu Induk (GI) di Takengon ke Kabupaten Bireuen dan melintasi Kabupaten Bener Meriah. Proyek ini didanai oleh Japan Bank International Coorporation (JBIC) dan Konsultan teknis Nippon KOI Jepang, dan akan dikerjakan selama 94 bulan (terhitung dari 18 Maret 2011) dengan jadwal operasi direncanakan pada kuartal IV/2015. Biaya total pendanaan proyek ini diperkirakan mencapai sekitar Rp2,96 triliun.

PLTA LAU RENUN berkapasitas total sebesar 82 MWatt (2 x 41 MWatt); dengan kecepatan putar turbin sebesar 750 rpm yang beroperasi sejak akhir 2005 lalu. Sampai saat ini PLTA ini lebih sering tidak beroperasi secara optimal karena debit air yang dihasilkan dari bendungan sering kurang dari 10 meter kubik per detik. Hal ini sangat disayangkan karena PLTA ini secara berurutan terletah di hulu aliran sungai Asahan, PLTA Renum berada di posisi paling atas, kemudian di bawahnya masing-masing adalah PLTA Sigura-gura milik Inalum dan PLTA Tangga yang juga milik Inalum berada di paling bawah.

PLTA SIGURA-GURA terletak di Simorea yang berada 200 m di dalam perut bumi dengan 4 unit generator dan total kapasitas tetap dari keempat generator tersebut adalah 286 MWatt (4 x 71,5 Mwatt) dan merupakan PLTA bawah tanah pertama di Indonesia. Tipe bendungan ini adalah beton massa dengan ketinggian 47 meter. Sayangnya ditengah defisit listrik yang masih terjadi di Sumut sebesar 200 MW, listrik yang dihasilkan PLTA ini sepenuhnya hanya digunakan oleh PT INALUM. PLN dikabarkan siap untuk membeli pembangkit ini dari PT INALUM sebesar US$400 juta. 

PLTA TANGGA merupakan PLTA pertama di Indonesia yang menggunakan bendungan beton bertipe busur setinggi 82 meter. PLTA ini berkapasitas sebesar 4 x 79,25 MWatt (total : 317 MWatt).

PLTA SIPANSIHAPORAS berlokasi di desa Husor, Sibuluan dan Sihaporas Kecamatan Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah Propinsi Sumatera Utara. PLTA ini mempunyai 2 unit generator dengan kapasitas total sebesar 50 MWatt (33 MWatt + 17 MWatt) dan diharapkan mampu memproduksi energi sebesar 203,6 GWh per tahun. Agar mampu bekerja maksimal, PLTA ini membutuhkan pasokan air minimal  sebesar 29.000 meter kubik per detik.

PLTA ASAHAN 1  terletak di Sungai Asahan, Desa Ambarhalim, Kec. Pintupohan Meranti, Kab. Toba Samosir. Prop. Sumatera Utara, terletak ± 130 km arah tenggara kota Medan. Energi yang dibangkitkan PLTA ini sebesar 1,175 GWh/tahun (Kapasitas total : 2 x 90 MWatt) yang disalurkan ke jaringan PLN melalui transmisi 275kV/150kV. Total nilai proyek ini sebesar US$ 310 juta yang berasal dari sumber dana BUMN China, CHD (China Huadian) dan PT. PLN PJB (Pembangkit Jawa Bali). Dalam pembangunannya yang dimulai 2006, PLTA Asahan I ini dikerjakan oleh perusahaan pembangkit listrik swasta (independent power producer/IPP) PT Bajradaya Sentranusa. Beroperasinya PLTA Asahan 1 akan menyuplai 20 % kebutuhan listrik Provinsi Sumatera Utara.

PLTA BATANG AGAM terletak di daerah Payakumbuh yang memanfaatkan air dari Sungai Batang Agam.  PLTA ini memiliki 3 unit generator berdaya 3,5 MWatt dan memiliki kapasitas total sebesar 10,5 MWatt.

PLTA MANINJAU diresmikan oleh presiden Suharto pada tanggal 28 Desember 1983, dan memiliki kapasitas terpasang 4 x 17 MWatt (68 MWatt) dan sumber airnya berasal dari Danau Maninjau. Pembangkit ini di desain oleh Ir. Januar Muin. Pada 30 September 2009, bersama dengan PLTA Singkarak, PLTA Maninjau mengalami gangguan dan lepas dari sistem akibat gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter.

PLTA SINGKARAK memiliki kapasitas terpasang sebesar 4 x 43,75 MWatt (175 MW) yang berasal dari Danau Singkarak melewati sebuah torowongan sepanjang 16 meter menjulur di bawah Gunung Merapi dengan kedalaman lubang sebesar 300 meter dan 850 meter di bawah permukaan tanah. PLTA Singkarak merupakan PLTA yang memiliki terowongan terpanjang di Indonesia dan merupakan pembangkit listrik ketiga yang memiliki lorong air bawah tanah setelah PLTA Batang Agam yang memiliki terowongan 1.200 meter rampung 1974, dan PLTA Maninjau yang memiliki terowongan 6.000 meter rampung 1985.  Terowongan Singkarak dibangun dari tahun 1992–1998, memiliki kontruksi yang cukup kuat, dapat menahan guncangan gempa sampai 10 skala rigter, dan juga dapat dilalui oleh kenderaan roda empat.

PLTA TES merupakan pembangkit listrik yang memanfaatkan energi potensial air yang pertama yang didirikan di wilayah Sumatera. Pusat listrik ini menggunakan pola kolam tando dengan gedung pembangkit berada di permukaan tanah yang memanfaatkan aliran Sungai Ketaun yang dibendung dalam kolam tando sebelum dialirkan melalui penstock ke turbin. PLTA Tes terdiri dari 2 unit generator dimana yang pertama adalah unit PLTA Tes Lama yang mulai dibangun pada tahun 1912-1923 di Desa Turan Tiging Kabupaten Rejang Lebong.Pembangunan PLTA tersebut dilatarbelakangi oleh adanya areal pertambangan emas yang berada di daerah Lebong Tandai dan Muara Aman sehingga seluruh kebutuhan listrik untuk pertambangan dipenuhi oleh PLTA tersebut. Kemudian pada tahun 1958 dilakukan renovasi akibat kerusakan yang diakibatkan oleh pembombardiran sentral pembangkit oleh tentara Jepang, dimana daya yang terpasang setelah renovasi menjadi 2 X 660 kWatt. Sedangkan unit kedua adalah PLTA Tes baru yang dibangun tepat di belakang gedung PLTA lama yang didirikan antara tahun 1986-1991 dengan daya terpasang 4 X 4,4 MWatt, sehingga daya total terpasang sejak tahun 1991 di PLTA Tes adalah sebesar 18,960 MWatt.Saat ini daya listrik yang dibangkitkan oleh PLTA Tes digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Propinsi Bengkulu melalui jaringan transmisi 70 kV. Tipe turbin di PLTA Tes adalahturbin Francis dengan horizontal shaft.

PLTA MUSI diresmikan oleh presiden Indonesia bapak Susilo Bambang Yudoyono pada bulan oktober tahun 2006 dan dapat menghasilkan energi listrik dengan kapasitas 3 x 70 MWatt yang dapat  menyuplai kebutuhan listrik bagi Sumatera bagian Selatan. PLTA uni merupakan PLTA type run off river yang memanfaatkan aliran sungai Musi dan pembuangan akhir ke sungai Simpang Aur. Biaya pembuatan PLTA ini mencapai sebesar US$ 159 juta atau setara dengan Rp. 1,5 triliun, terdiri dari pinjaman lunak dari Asian Development Bank (ADB) sebesar Rp. 1,4 triliun, APBN sebesar Rp. 245 miliar dan APLN (Anggaran PT PLN) sebesar Rp. 113 miliar. Pembangunan proyek ini terjadi setelah terbit Keppres 64/2000 yang mencabut Keppres 39/1997.

PLTA KOTO PANJANG terletak di Provinsi Riau – Sumatera Barat. Proses pembuatannya diawali dengan project finding oleh perusahaan konsultan dari Jepang TEPSCO (Tokio Electric Power Service Co. Ltd) bulan September dan November 1989. Untuk pembangunan fisik proyek, mulai dilakukan tahun 1991 dan diresmikan pada tanggal 28 Februari 1997. Dam PLTA Koto Panjang yang memotong aliran Sungai Kampar Kanan dan menggenangi areal seluas 124 km2, dibangun untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas sebesar 114 MW melalui 3 unit turbin. Proyek ini dibiayai dengan dana dalam bentuk hutang sebesar 31,177 Miliar Yen dari OECF (Overseas Economic Development Fund) Jepang.

PLTA BESAI terletak di Lampung dengan daya terpasang sebesar 2 x 46,4 MWatt, dan hingga sekarang PLTA ini masih dalam tahap studi kelayakan dan konstruksi karena mengalami defisit pasokan cadangan air. PLTA ini dan PLTA Musi hanya bisa beroperasi pada saat beban puncak saja. 

PLTA BATUTEGI menggunakan pasokan air dari dam penampungan air terbesar se-ASEAN, bendungan Batutegi, dilengkapi dengan 2 turbin air bertipe Francis (2 x 14 MWatt) dengan kecepatan putar sebesar 375 rpm, dan debit air nominal sebesar 18,5 m3/s.

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Artikel lainnya tentang PLTA :

  1. Pembangkit listrik tenaga arus laut
  2. PLTA alternatif energi masa depan Indonesia
  3. Pembangkit listrik masa depan Indonesia
  4. Edisi 2 Persebaran PLTA di Jawa Barat 

 Atau kumpulan-kumpulan artikel lainnya tentang

  1. Pembangkit Listrik Tenaga Angin
  2. Energi Terbarukan
  3. Elektronika Daya
  4. PLTN
About these ads

One thought on “Edisi Persebaran Pembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia (1)

  1. Koreksi untuk PLTA ANGKUP, nama yg benar adalah PLTA Peusangan I dan II lokasinya di Kecamatan Silih Nara. Letaknya kira2 17 km sebelah barat Kota Takengon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s