Permasalahan Pada Program Pembangunan PLTU Skala Kecil


Permasalahan Pada Program Pembangunan PLTU Skala Kecil

22 April 2016

Ir. Kadek Fendy Sutrisna M.Eng, IPM

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Program percepatan pembangunan pembangkit listrik 35,000 MW di Indonesia saat ini perlu mendapat perhatian serius untuk semua kalangan. Di beberapa daerah, khususnya di Indonesia bagian timur, pembanguan pembangkit listrik kapasitas besar belum dapat direalisasikan karena masih rendahnya serapan beban kebutuhan energi listrik. Proyek Pembangunan PLTU Skala Kecil bisa menjadi salah satu solusi.

Berikut saya sampaikan sumbang saran dan paparan sederhana tentang permasalahan pada program pembangunan pembangkit listrik skala kecil yang terjadi di Indonesia. Semoga poin-poin ini bisa menjadi perhatian khusus untuk proyek PLTU Skala Kecil selanjutnya demi suksesnya pelaksanaan program percepatan pembangunan pembangkit listrik di Indonesia. Semoga bisa bermanfaat!

1. KONDISI BEBAN

Pada program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10,000 MW tahap 1 & 2, banyak dibangun PLTU skala kecil kapasitas 3-30 MW yang bertujuan untuk menggantikan fungsi pembangkit listrik diesel pada daerah-daerah yang jaringan listriknya masih isolated. Sesuai karakteristik operasinya, PLTU pada umumnya adalah merupakan pembangkit beban dasar. Beberapa klaim diajukan bahwa, pada PLTU (skala kecil) yang menggunakan boiler desain tertentu (misal spreader stocker boiler dengan double drum) mampu juga berfungsi sebagai pembangkit yang dapat mengikuti beban yang bervariasi (peak load/load follower). Akan tetapi klaim-klaim tersebut sampai saat ini masih harus dibuktikan, mengingat belum satupun PLTU yang menggunakan spreader stocker boiler yang telah beroperasi dalam jaringan PLN (3 PLTU skala kecil di Ende, Karimun dan Ternate yang merupakan bagian dari Proyek Percepatan Tahap 1 masih dalam tahap penyelesaian).

PLTU skala kecil batch 1 dan 2, di beberapa lokasi, dibangun di daerah yang perbedaan beban  puncak dan beban dasar sangat besar, bisa sampai 2 kalinya. Di Rote misalnya, karena masih rendahnya beban, pembangunan PLTU 2 x 3 MW bisa berlebihan. Karena beban dasarnya kurang dari 3 MW. Untuk kasus seperti ini, pada saat beban dasar (siang hari), hanya satu PLTU yang dioperasikan, atau jika keduanya dijalankan maka PLTU tersebut akan beroperasi pada kinerja efisiensi rendah.

PLTU sebagai pembangkit listrik untuk beban dasar, dioperasikan tidak untuk mengikuti perubahan beban yang besar, apalagi harus melakukan operasi start – stop (isochronous operation). Selain karena waktu start PLTU lebih lama dibandingkan dengan beban puncak (seoerti PLTG, PLTA ataupun PLTD), juga operasi start stop yang terlalu sering akan mempengaruhi umur operasi dari PLTU. Continue reading

PLTS di Atap Rumah


PLTS di Atap Rumah

6 Desember 2015

Ir. Kadek Fendy Sutrisna M.Eng, IPM

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Dibandingkan dengan negara lain, matahari merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat berlimpah di Indonesia. Akan sangat bijaksana apabila kita menggunakan energi ini untuk membantu pemerintah memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia.  Teknologi sel surya sangat ramah lingkungan, dan saat ini harganya sudah cukup murah, sehingga cocok diaplikasikan di atap-atap rumah di perkotaan, disamping juga listrik dari sumber energi surya akan sangat berguna untuk pemerataan listrik ke daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau saluran transmisi PLN.

Saya ambil contoh, Provinsi Bali, yang pemerintahnya saat ini merencanakan untuk memasang panel surya pada gedung-gedung perkantoran milik pemerintah provinsi. Saat ini Bali masih tergantung dengan pasokan listrik dari Jawa dan pembangkit listrik berbahan bakar minyak yang masih mahal biaya produksi listriknya. Alangkah bijaknya apabila kita mulai berpikir untuk memanfaatkan PLTS/panel surya ini di atap-atap rumah kita sebagai bentuk dukungan ke PLN dan pemerintah daerah.

Berikut saya berikan gambaran tentang cara kerja dan analisa keuangan untuk penggunaan teknologi tenaga surya di atap-atap rumah kita (on-grid net metering solar panel). Semoga ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk rekan-rekan di PLN, di pemerintahan, dan kita sebagai pengguna energi bersih di Indonesia.

Perlu diingat disini adalah saya memberikan paparan solusi penggunaan PLTS dengan grid connected/on-grid net metering system, yang dimana sistem ini cocok apabila diaplikasikan di jaringan interkoneksi Jawa – Bali yang mana jumlah total kapasitas pembangkitannya mencapai lebih dari 30 ribu MW.

Pada pulau-pulau kecil dengan sistem kelistrikan yang masih terisolasi, biasanya PLN membatasi kapasitas PLTS on-grid yang terpasang maksimum 15% dari kapasitas total pembangkit PLN.

Pengunaan baterei pada sistem terisolasi PLTS untuk menjamin agar energi yang dihasilkan PLTS sama dengan energi yang dibutuhkan, penulis masih menganggap sangat mahal dan tidak ekonomis, karena teknologi dan harga baterei tidak mengalami kemajuan secepat kemajuan teknologi PLTSnya. Pilihan ini (PLTS plus baterei) biasanya dipakai hanya jika sumber PLN atau energi lainnya tidak tersedia atau jauh lokasinya. Continue reading

Permasalahan-permasalahan Kelistrikan Indonesia


Permasalahan-permasalahan Kelistrikan Indonesia

Kadek Fendy Sutrisna

27 Juni 2014

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan tarif listrik per 1 juli 2014 hingga November 2014. Di satu sisi, dirut PLN, Nur Pamudji, mengatakan bahwa kenaikan tarif listrik dapat mengurangi subsidi listrik negara dan memperbaiki struktur pendapatan PLN. PLN berjanji akan mempercepat proses pembangunan infrastruktur kelistrikan dan infrastruktur pendukung lainnya khususnya di daerah yang selama ini belum menikmati listrik. Tabel 1 menunjukkan daftar kondisi pendapatan ekonomi, % rasio elektrifikasi, dan jumlah penduduk tanpa listrik masing-masing daerah di Indonesia. Dari tabel tersebut, menurut hemat saya, PLN sebaiknya lebih memfokuskan untuk membangun infrastruktur kelistrikan di daerah dengan rasio elektrifikasi dan pendapatan daerah yang rendah. Continue reading

5 Saran Untuk Pembangunan Industri Pariwisata di Bali


5 Saran Untuk Pembangunan Industri Pariwisata di Bali

6 Februari 2013

Kadek Fendy Sutrisna

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Ada beberapa tempat industri pariwisata di dunia dan di Indonesia yang pernah saya kunjungi hingga saat ini, antara lain Bremen, Munchen, Gottingen, Frankfurt, dll di Jerman; Lyon, Paris, Toulouse di Perancis; beberapa tempat di Belgia, Belanda, Taiwan, dan tentu saja Jepang negara tempat saya bekerja saat ini dan Indonesia tanah kelahiran saya.

Sebelum memulai artikel ini, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya adalah putra asli Bali yang menyempatkan diri pulang kembali ke Bali setiap tahunnya untuk sekedar melihat perkembangan pariwisata, berkumpul dengan keluarga, ataupun berkunjung ke pura-pura, tempat wisata yang baru, yang menjadi buah bibir saat itu.

Sejak lulus SMU dan mulai merantau, saya rasakan pembangunan infrakstruktur di Bali memang sangatlah cepat jika dibandingkan dengan daerah lainnya dan berkali-kali saya dibuat kagum, bingung, oleh perubahan itu. Tidak terkecuali liburan awal tahun 2013 ini juga, ada banyak sekali perubahan pembangunan yang terjadi di Bali. Dan pada artikel ini saya coba uraikan disini dengan tujuan memberikan gambaran buat teman-teman lainnya yang ingin mengetahui perkembangan Bali terkini dari sudut pandangan mata dan pengalaman saya sendiri.

Oiya pada artikel ini saya coba juga untuk memberikan pesan-pesan, yang siapa tau bisa disampaikan sekalian ke pihak-pihak yang sedang meperjuangkan untuk kebaikan pembangunan Bali di masa depan.  Continue reading

Prinsip Kerja Generator


Prinsip Kerja Generator

– Short Circuit Ratio (SCR)-

Kadek Fendy Sutrisna

10 Oktober 2012

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Pada artikel ini saya akan mencoba untuk berbagi ilmu tentang apa itu SCR dan beberapa ulasannya tentang manfaat parameter ini saat kita memutuskan untuk membangun pembangkit listrik baru. SCR berhubungan dengan kestabilan sistem dan juga menentukan harga dari generator pembangkit listrik. Sayangnya parameter ini sangat susah untuk dimengerti baik untuk sarjana lulusan teknik elektro sekalipun. Ada pun parameter  generator lainnya seperti tegangan [V], arus [A], kapasitas [MVA], power faktor, frekuensi [Hz], dan lain-lainnya, karena dirasa sudah sangat familiar, akan saya bahas apabila diperlukan.  Selamat menikmati.

Continue reading

Catatan Kunjungan ke PLTA di Jepang


Catatan Kunjungan ke PLTA di Jepang

Kadek Fendy Sutrisna

29 Agustus 2012

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Hari ini adalah hari yang berkesan buat saya. Selama 2 tahun belakangan ini. Setelah berkunjung ke berbagai PLTN yang ada di Jepang seperti Higashi-doori, Fukushima, Tokaimura, Mihama, Monju, dll,  akhirnya saya berkesempatan juga mengunjungi 2 pembangkit listrik lainnya selain tenaga nuklir, yaitu tenaga air (PLTA) yang ada di Jepang. Berasa berkesan karena lengkaplah sudah semua jenis pembangkit listrik seperti PLTU (Minyak bumi, Gas, Batubara), Geothermal, Wind Farm, dan PLTN (BWR, PWR, ABWR, FBR) sudah pernah saya kunjungi hingga saat ini.

Untuk sekedar diketahui PLTA memiliki sistem kerja yang sedikit berbeda dengan pembangkit listrik lainnya. Dan tentu saja memiliki bentuk generator, turbin, dan komponen lainnya yg sedikit berbeda. Apabila PLTU disusun dengan turbin dan generator yg berjejer secara horizontal, kalau PLTA memiliki sistem turbin air dan generator yang biasanya dihubungkan secara vertikal bertingkat-tingkat, seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 1 Mock up model PLTU dan PLTA Continue reading

Arsip Catatan Fendy Sutrisna per Mei 2012


Arsip Catatan Fendy Sutrisna per Mei 2012

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

1. Indonesia terkenal sebagai negara pengekspor batubara terbesar kedua di dunia (24,3%) setelah Australia (27,7%) diikuti dengan Rusia (12,3%), Kolumbia (7,4%), dan Afrika Selatan ( 7,1%) dengan total jumlah batubara yg di ekspor adalah sebesar 943,6 Juta Ton (10^6 ton)

Sedangkan negara pengimpor batubara terbesar adalah Jepang (20,1), Korsel (10,8%), Taiwan (7,2%), India (6,5%) (12 Mei 2012)

Continue reading