Industri Pariwisata Indonesia


Industri Pariwisata Indonesia

Kadek Fendy Sutrisna

7 Mei 2011

Hanya sedikit orang-orang Indonesia mempunyai perhatian terhadap dunia pariwisata saat ini. Padahal perlu diketahui bahwa  industri pariwisata juga mempunyai peranan yang lumayan besar dalam membangun perekonomian rakyat. Industri pariwisata terbukti mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang berbasis pada usaha kecil menengah.

Tabel 1 Kontribusi Pariwisata terhadap GDP 2008

Pada tulisan ini saya ingin memaparkan tentang kondisi industri pariwisata di Indonesia dengan membandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya. Tulisan ini juga mengajak rekan-rekan untuk membangun industri pariwisata, memanfaatkan segala potensi lokal yang ada, dan apabila kita tidak bisa untuk ikut berkontribusi di dalamnya, setidaknya berusaha untuk menjaga kelestariannya dengan memberikan kenyamanan kepada para penikmat pariwisata. Kita harus selalu ingat bahwa kelestarian dari tempat pariwisata itu adalah urat nadi dari perekonomian rakyat sekitarnya,  dan dengan menjaga roda industri pariwisata tersebut secara tidak langsung kita telah membuat perekonomian rakyat menjadi berkembang.  

1. Posisi pariwisata Indonesia masih di urutan tiga setelah Malaysia dan Thailand. 

Pemerintah Malaysia dan Thailand, sangat sadar bahwa industri pariwisata adalah urat nadi ekonomi kerakyatan, yang kini berbasis pada jutaan usaha kecil menengah. Karena itu, kedua negara tersebut sangat serius membangun industri pariwisata mereka. Malaysia melalui rencana pembangunan Eigth Malaysia Plan (2001-2008) bertekad menjadikan negerinya sebagai tourism country. Tahun ini (2002) Negeri Jiran itu menargetkan kunjungan 15 juta turis asing (dengan target devisa US$10 miliar) atau meningkat 25% dari tahun sebelumnya yang tercatat 12 juta orang dengan devisa US$9 miliar.

Negeri Gajah Putih, Thailand, dengan slogan Be My Guest, tahun ini menargetkan kunjungan 12 juta turis asing (target devisa US$8 miliar) atau meningkat 14% dari tahun lalu yang 10,5 juta orang dengan devisa US$7,9 miliar. Untuk mewujudkan target tersebut, Thailand melakukan promosi besar-besar ke luar negeri. Apabila Malaysia menganggarkan  dana US$150 juta, Thailand menganggarkan dana US$200 juta untuk pariwisata. Tak tanggung-tanggung Negeri Gajah Putih itu menjadikan Perdana Menteri (PM) Thailand, Taksin Shiwanatra sebagai model iklan kampanyenya pada Majalah Time edisi 4 Februari 2002 lalu.

Thailand juga menindak tegas siapa saja yang mencoba atau melakukan gangguan keamanan yang menggangu para turis asing. Jaminan keamanan itu telah diwujudkan dengan menindak tegas pihak-pihak yang melakukan tindak anarkhis (kerusuhan), kriminalitas dan aksi terorisme.

Kedua negara ini sangat menyadari bahwa industri pariwisata telah menjadi urat nadi bagi kehidupan dan kelangsungan usaha mereka. Dan saya yakin kita pun bisa seperti Malaysia dan Thailand dalam mengembangkan industri pariwisata.

 2. Indonesia dengan segala potensi lokal budaya (wisata budaya), keanekaragaman agama (wisata religi), dan potensi alam (wisata alam) yang begitu besar seharusnya dapat menjadi peran utama dalam industri kepariwisataan.

Sangat disayangkan, di Indonesia sendiri belum ada kesadaran kolektif tentang arti penting industri pariwisata bagi ekonomi kerakyatan. Terlihat, jaminan keamanan kepada turis asing atau wisman masih sangat sangat memprihatinkan. Para wisman kerapkali justru menjadi korban kejahatan. Padahal, jaminan keamanan kepada para wisman adalah comparative advantage dan added value dalam industri pariwisata.

Beberapa waktu lalu misalnya, dua orang wisman asal Korea Selatan (Korsel) dan Inggris, yang sedang berbelanja di Mangga Dua dan Atrium Senen, Jakarta Pusat, telah menjadi korban aksi perampokan. Kasus  di Bali lebih tragis lagi, turis wanita Jepang bukan saja menjadi korban pemerasan namun juga menjadi korban pelecehan seksual.

Budaya leluhur kita yang sangat ramah terhadap pendatang perlu ditingkatkan kembali. Kita harus selalu sadar bahwa wisatawan asing (wisman) yang berkunjung ke Indonesia adalah urat nadi perekonomian rakyat menengah kita. Di tempat pariwisata kita harus membuat citra yang positip agar para wisman berbondong-bondong datang ke Indonesia.

Tentu saja langkah ini tidak akan berhasil apabila ini tidak didukung oleh semua pihak, dari elit politik, aparat kepolisian sampai  masyarakat luas. Semakin meningkatnya kunjungan wisman ke Indonesia maka ekonomi kerakyatan juga akan berkembang. Dukungan itu sendiri harus diwujudkan dalam bentuk kesadaran kolektif berupa pemberian jaminan keamanan kepada wisman.

Ada 2 point yang harus segera diperbaiki dalam mewujudkan misi besar ini. Pertama, para elit politik harus sadar untuk tidak terus-menerus menciptakan krisis politik yang dapat menciptakan instabillitas keamanan nasional sehingga berimbas pada terganggunya kunjungan wisman.

Point yang kedua adalah aparat kepolisian dan masyarakat luas harus  bertindak tegas terhadap siapa saja yang mencoba atau akan melakukan tindak  anarkhis, kejahatan, kekerasan antar-agama, dan aksi terorisme (peledakan bom)  yang dapat menggangu keamanan dan kenyamanan para wisman. Termasuk memberikan jaminan keamanan kepada para wisman hingga pasar-pasar tradisonal atau tempat berbelanja, bukannya membiarkan mereka menjadi sasaran (korban) kejahatan.

Pada akhirnya, semua pihak harus berpikir panjang dan jernih. Harus disadari, jika bisnis pariwisata terus terpuruk bahkan runtuh lantaran ketakutan dan kecemasan wisman tentu akan mengancam kelangsungan  hidup ekonomi kerakyatan khususnya yang selama ini menggantungkan diri pada sektor ini.

3. Industri Pariwisata adalah urat nadi perekonomian rakyat kecil menengah

Sektor pariwisata penghasil devisa nomor tiga di Indonesia, setelah tambang dan migas.  Data Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata (Menneg Budpar, 2000), memperlihatkan, sektor usaha termasuk sektor UKM yang terkait langsung dalam bisnis pariwisata memang cukup banyak. Tenaga kerja yang terserap di dalamnya juga cukup besar, mencapai 2.781.891 orang.

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :

  • Sektor jasa (transportasi dan jasa lainnya) tercatat 1.288.024 orang,
  • Perdagangan (901.023 orang),
  • Usaha sayuran dan buah-buahan (184.644 orang),
  • Usaha hasil pertanian (127.063 orang),
  • Usaha makanan (108.143 orang),
  • Industri tekstil, pakaian dan kulit (88.604 orang),
  • serta industri kerajinan bambu, kayu, rotan dan kerajinan lainnya tercatat 84.390 orang.

Jika setiap pekerja menanggung tiga orang, maka tercatat sebanyak 8.345.673 orang sangat bergantung pada industri pariwisata ini.  Hidup matinya UKM di pusat-pusat industri kerajinan di Provinsi Bali seperti Dusun Celuk (kerajinan perak), Ubud (kerajinan tangan dan seni lukis), dan Dusun Dawam (kerajinan kayu) misalnya, sangat tergantung pada industri pariwisata. Ketika kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) atau turis asing “terganggu”, industri kerajinan di dusun-dususn tersebut terpukul hebat.

Kesimpulan

Kesadaran kolektif tentang arti  penting sektor pariwisata bagi ekonomi kerakyatan benar-benar diperlukan dalam membangun sebuah industri pariwisata. Stop aksi terorisme, karena jaminan keamanan kepada para turis asing perlu ditingkatkan dari tingkat bandara, hotel sampai ke pasar-pasar tradisional. Apabila jaminan ini sudah terpenuhi, fasilas-fasilitas lainnya seperti pusat informasi dan kenyamanan sarana transportasi juga perlu menjadi perhatian.

Reference : 

1. Pidato presiden Megawati Soekarnoputri. Asean Tourism Forum (ATF) di Yogyakarta, 25 Januari 2002


Berwisata keliling dunia


Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE atau SUKA,KOMENTARI & BAGIKAN halaman facebook berikut -> Catatan Fendy Sutrisna

dan silahkan baca juga artikel lainnya tentang pariwisata Indonesia disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s