BLANCO RENAISSANCE MUSEUM


BLANCO RENAISSANCE MUSEUM

Kadek Fendy Sutrisna

17 Mei 2011

“A thing of beauty is a joy forever

Museum Antonio Blanco adalah sebuah museum penghargaan yang diberikan oleh raja Ubud saat itu yang terletak di rumahnya di atas bukit di tepi sungai Campuan, Ubud, berjarak 1,5 jam dari Denpasar.

Antonio Maria Blanco lahir di Manila, Filipina, 15 September 1912 – meninggal di Bali, Indonesia, 10 Desember 1999 pada umur 87 tahun, adalah seorang pelukis keturunan Spanyol dan Amerika. Antonio lahir di distrik Ermita di Manila, Filipina. Ia pada mulanya hidup dan bekerja di Florida dan California, Amerika Serikat, hingga pada suatu waktu hatinya tertarik untuk mengeksplorasi pulau-pulau di Samudra Pasifik sebagai sumber inspirasinya seperti pelukis Paul Gauguin, José Miguel Covarrubias dan yang lainnya sebelum dirinya.

Memasuki galeri Antonio Blanco, kita akan melihat kemampuannya yang tiada duanya dalam menggambarkan keindahan seorang wanita. Sebagian besar karya lukisnya bertemakan wanita yang bertelanjang dada dengan seni yang tinggi, romantis, dan berbeda dengan unsur pornografi. Sebagian besar model yang dipakai adalah istri sang maestro sendiri, seorang penari Bali yang santun, Ni Ronji ; anak sulungnya Tjempaka Blanco, dan model-model lain yg dianggap layak untuk diabadikan keindahannya. Tidak heran, Presiden Soekarno pada jamannya sering mengunjungi rumah Blanco, yang dimana kedua-duanya adalah seorang yang sangat mengaggumi wanita.

Museum Antonio Blanco

Perlu diketahui bahwa di masa awal kejayaan pariwisata Bali, perempuan Bali merupakan unsur daya tarik yang begitu kuat bagi datangnya wisatawan. Di dalam museum ini, terdapat sebuah artikel yang berjudul ‘Bali-a-Breast’, yang menjelaskan pada masa itu, perempuan Bali adalah keindahan dalam arti sesungguhnya. Keindahan yang terbentuk dari kebiasaan bekerja keras dan berjalan jauh dengan tangan terangkat memegang panggulan di atas kepala. Konon ini adalah bentuk olah raga yang sempurna untuk menciptakan payudara yang indah. Keindahan jasmani dalam karakter pribadi yang kuat memberikan pesona yang luar biasa pada mereka.

Lukisan-lukisan Antonio Blanco sebagian besar juga menunjukkan penghargaannya yang mendalam terhadap tubuh perempuan. Lukisan-lukisan yang sedemikian indahnya sehingga menarik perhatian orang dari berbagai kalangan seperti aktris Ingrid Bergman, ratu telenovela Mexico Thalía (Ariadna Thalía Sodi Miranda), Soekarno (Presiden pertama Indonesia), Soeharto (Presiden kedua Indonesia), mantan Wakil Presiden Indonesia Adam Malik, Pangeran Norodom Sihanouk, Michael Jackson yang sempat membubuhkan tanda-tangannya pada sebuah lukisan sebagai sebuah donasi untuk Children of the World Foundation, dan masih banyak lagi.

Sepanjang kariernya, Antonio menerima berbagai penghargaan, termasuk diantaranya Tiffany Fellowship (penghargaan khusus dari The Society of Honolulu Artists), Chevalier du Sahametrai dari Cambodia, Society of Painters of Fine Art Quality dari Presiden Soekarno dan Prize of the Art Critique di Spanyol. Antonio juga menerima penghargaan Cruz de Caballero dari Raja Spanyol Juan Carlos I yang memberikannya hal untuk menyandang gelar “Don” di depan namanya.

Michael Jackson dan Antonio Blanco

Antonio Blanco adalah seorang petualang yang begitu bebas. Dia telah menjelajahi berbagai belahan dunia sampai akhirnya ia membaca tentang pulau Bali di buku ‘The Island of Bali’ karya Covvarobias. Tahun 1952 akhirnya ia sampai di Ubud dan jatuh cinta pada sungai, sawah, dan keteduhan budayanya. Seperti semua pejalan kaki, ia pun berbicara banyak dengan penduduknya.

Ia bersahabat dengan Raja Puri Saren Ubud yang kemudian memberinya sebidang tanah untuknya tinggal di dekat sungai Campuan.  Di sanalah ia membangun pondok, melukis, menulis puisi,  dan memberi warta pada dunia tentang indahnya Ubud.  Di sana ia memeluk agama Hindu dan jatuh cinta pada Ni Ronji, seorang penari Bali yang membuatnya semakin mantap untuk menghabiskan sisa hidupnya di pulau nan cantik ini.

Bersama Ni Ronji ia memiliki empat orang anak, Tjempaka, Mario, Orchid, dan Mahadevi. Ia menetap di Ubud sampai akhir hayatnya di tahun 1999 dalam usia 88 tahun, yang dilakukan dengan upacara ngaben, upacara khas Hindu, yang khidmat. Darah seni lukis sang Ayah terwariskan pada satu-satunya putra yang dimiliki Antonio Blanco, yaitu Made Mario Blanco. Putra yang telah dikelilingi oleh kesenian sejak masa kanak-kanak ini telah mulai melukis sejak umur lima tahun.

Don Antonio Blanco

Berbeda dengan sang Ayah yang kebanyakan melukis perempuan, maka Mario Blanco lebih tertarik untuk melukis obyek benda dengan gaya 3 dimensi yang luar biasa. Perlahan Mario Blanco yang berbakat ini berhasil keluar dari bayang-bayang sang ayah dan meraih gelar kemaestroannya sendiri. Kesamaan bapak-anak ini adalah kreativitas yg luar biasa dalam membuat bingkai/pigura.  Sangat unik dan sangat menarik.

Sherina dan Putra Antonio Blanco

Mario Blanco dan hobinya memelihara Jalak Bali mendapat perhatian Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono

Bingkai/Pigura karya Mario Blanco

Pelataran museumnya sangat  rindang dan asri. Burung-burung jenis golden macaw, kakatua raja dan kakatua putih menjadi pemandangan yg menarik. Sambil berjalan kita akan mendengar lagu-lagu opera klasik sebagai latar. Di pintu museum terdapat sebuah gerbang besar yang sangat unik. Rupanya gerbang ini adalah replika tanda tangan dari Antonio Blanco yg dibuat dalam kertas lipatan.

Pelataran Museum Antonio Blanco

Dalam cahaya lampu yang temaram kita akan menikmati barisan lukisan dengan pigura-pigura yang unik hasil desain sang maestro sendiri. Suasana seni sangat kuat terasa di setiap area museum dengan nuansa perpaduan Victorian dan Bali. Dari galerinya kita bisa lanjut mengunjungi studio tempat seniman flamboyan ini bekerja. Disini banyak lukisan-lukisan yang belum dipigura. Dindingnya juga penuh lukisan dan coretan coretan puisi beliau maupun ucapan penyemangat dari sahabat-sahabatnya.

Terdapat juga sebuah foto yang menampilkan Antonio Blanco muda sedang belajar menari kebyar. Foto yang menampilkan seorang pemuda yang sangat ekspresif dengan keliaran seorang seniman yang begitu terbebaskan. Masih banyak yang bisa dilihat di area museum; perpustakaan, galeri Mario Blanco, amphitheatre, dan sebuah teras dimana terdapat foto-foto keluarga Blanco.

Museum Antonio Blanco memberikan nuansa yang berbeda dari museum seni lukis lain. Terdapat nuansa kreatifitas, petualangan, kebebasan, dan kecintaan pada keluarga serta pada keindahan yang sangat kental.

Baca juga artikel lainnya tentang Bali :

  1. Sepenggal Catatan Tentang Liburan di Bali
  2. Studi Tentang Kelistrikan Bali
  3. Penyebab dan Langkah Pencegahan Banjir di Bali
  4. Inkubator Wirausaha di Bali
  5. Sekilas Tentang Geothermal Bali
  6. Permasalahan Yang Perlu Menjadi Perhatian Publik Bali

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE atau SUKA,KOMENTARI & BAGIKAN halaman facebook berikut -> Catatan Fendy Sutrisna


Bagi yang berminat untuk membaca artikel lainnya tentang pariwisata dapat dilihat disini.

Refenrensi ;

1. http://www.blancomuseum.com/

2. Tulisan I Gusti Ngurah Wijaya Kusuma di Kompas.

3. http://boomnet.multiply.com/journal/item/41

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s