Sekilas Mengenai Bahaya Radiasi Nuklir dari PLTN


Sekilas Mengenai Bahaya Radiasi Nuklir dari PLTN

Kadek Fendy Sutrisna

7 September 2011 

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Pasca terjadi kecelakaan pembangkit nuklir di Fukushima Jepang, orang-orang mulai meragukan akan masa depan dari energi nuklir. Dunia mulai dihinggapi dengan kecemasan akan bahaya radiasi nuklir pada kehidupan di masa depan. Sesaat setelah terjadi bencana di Fukushima, Jepang Amerika Serikat, India, dan Korea Selatan langsung melakukan review standar keamanan seluruh reaktor nuklir mereka. Beberapa negara seperti China, Italia, Jerman melakukan penilaian kembali perlunya penggunaan reaktor nuklir di negara mereka masing-masing. Rencana pembangunan nuklir di beberapa negara Asia Tenggara pun diberhentikan untuk sementara . Hanya Indonesia dan Vietnam yang mengindikasikan masih terus ingin memiliki reaktor nuklir.

Pada artikel ini, penulis mencoba untuk mereview kembali pengalamannya selama berada di Jepang yeng berhubungan dengan bahaya radiasi nuklir dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk memberi gambaran awal tentang seberapa bahayanya radiasi apabila di Indonesia akan dibangun PLTN, marilah bersama-sama kita lihat dahulu standar dosis radiasi dalam kehidupan sehari-hari kita. Gambar 1 dibawah ini memperlihatkan tentang radiasi dalam kehidupan sehari-hari yang kita terima tanpa kita sadari.  Disini dapat kita lihat bahwa dosis radiasi standar di daerah sekitar PLTN sangatlah kecil. Apabila suatu daerah sudah dinyatakan aman untuk dibangun PLTN, dalam artian resiko bencana alam yang rendah, alangkah baiknya kita menghilangkan prasangka buruk kita terhadap bahaya radiasi ini.

Gambar 1 Dosis Radiasi dalam kehidupan di sekitar kita

Gambar 2 Pengalaman penulis berkunjung ke PLTN Fukushima sebelum kecelakaan Februari 2010 : berdiri diatas reaktor yang sedang beroperasi (kiri-bawah), melihat kolam tempat penyimpanan bahan bakar uranium yang telah dipakai (kanan-atas), dan berada dibawah reaktor untuk melihat batang kontrol (kanan-bawah)

Gambar 3 Foto bareng diatas reaktor Fukushima yang sedang beroperasi (penulis berdiri ditengah-tengah, diurutan keempat dari kanan)

Saat terjadi kecelakaan di Fukushima, penulis berada di Tokyo -Jepang, yang berjarak 275 km dari pusat radiasi tertinggi di Jepang. Tentu saja saat itu adalah saat-saat yang paling mendebarkan dalam kehidupan di Jepang. Kegelisahan dan kengerian selalu ada disetiap wajah orang yang ada di Jepang. Sewaktu-waktu kita harus siap untuk meninggalkan Jepang, karena memang Dunia khususnya Jepang belum siap untuk menghadapi kecelakaan nuklir ini. Perlu ditekankan disini, tidak ada satu pun negara yang berpengalaman dalam menentukan seberapa besar resiko dari kecelakaan Fukushima saat itu. Saat itu warga dunia khususnya yang berada di Jepang dihantui dengan ketakutan akan bayangan sejarah Chernobyl dan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki.

Jaman sudah sangat berbeda jika dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Saat ini manusia sudah bisa berpindah tempat dengan menggunakan pesawat terbang. Informasi bisa dengan cepat menyebar melalui internet. Yang penulis lakukan saat itu adalah bersama teman-teman lainnya mencoba untuk mengukur laju dosis radiasi di beberapa kota di Jepang. Jika terjadi sesuatu perubahan yang significant terhadap laju dosis radiasi, saat itu juga kita sudah siap untuk balik pulang ke Indonesia. Hasil dari pengukuran yang dilakukan penulis dapat dilihat pada gambar 4. Dan dari hasol pengukuran ini dapat disimpulkan bahwa dari saat kejadian, kondisi Tokyo yang berjarak 275 km dari PLTN Fukushima dinyatakan aman. Masyarakat tidak perlu khawatir akan bahaya radiasi nuklir. Hasil ini juga dipakai oleh KBRI Tokyo dalam mengambil keputusan untuk tidak mengungsikan rakyat Indonesia dari Tokyo.

Gambar 4 Foto bareng setelah pertemuan bersama Dubes RI di Tokyo

Satu kesimpulan yang penulis pelajari dari pengalaman tersebut adalah, resiko menggunakan suatu teknologi yang baru selalu ada. Seperti halnya saat pertama kali pesawat terbang ditemukan, terjadi berkali-kali kecelakaan pesawat yang menimbulkan banyak korban jiwa. Tapi lihatlah sekarang, teknologi pesawat terbang saat ini sudah jauh berkembang dan mampu mengurangi resiko kecelakaan pesawat terbang. Bayangkan jika saat ini adalah dunia tanpa teknologi pesawat terbang?
Penggunaan PLTN disini tidak jauh lebih berbahaya dari penggunaan PLTA, PLTU, Geothermal atau pembangkit lainnya. Bahaya radiasi nuklir dari PLTN tidak seseram yang digambarkan dari kecelakaan Chernobyl dan Bom Nuklir di Hiroshima dan Nagasaki.

 

Gambar 4 Laju Dosis Radiasi di Beberapa Kota di Jepang

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Menerima jasa Konsultasi Studi Kelayakan (Feasibility Study, FS) untuk proyek Pembangkit Listrik, konsultansi meliputi pemilihan lokasi pembangunan pembangkit listrik, studi perhitungan daya dan energi listrik, studi sistem kelistrikan, membuat estimasi biaya pembangunan pembangkit listrik mencakup analisis harga satuan pekerjaan sipil, peralatan elektrikal-mekanik, peralatan jaringan transmisi-distribusi-instalasi rumah, pajak serta biaya pengembangan; memperkirakan komponen biaya operasional (fixed & variable O&M Cost); menghitung harga tarif yang tepat, analisa finansial, dan mematangkan segala langkah pembangunan dan operasional proyek pembangunan pembangkit listrik.
WA/Line : 0813378-01378,
Email : ir.fendysutrisna@gmail.com

 Adapun artikel lainnya tentang PLTN pada blog ini dapat dilihat di sini :

1. Perkembangan PLTN di Dunia

 2. Proses pengayaan Uranium  

 3. PLTN jenis reaktor air ringan 

4. PLTN jenis reaktor air berat  

5. Mengapa harus PLTN 

6. Pembangkit listrik setelah ‘jaman fosil’ 

Atau nikmati juga artikel lainnya tentang renewalble energi atau beberapa informasi tentang kelistrikan Indonesia.

3 thoughts on “Sekilas Mengenai Bahaya Radiasi Nuklir dari PLTN

  1. Pingback: Sekilas Mengenai Konverter DC-DC « Indone5ia

  2. Pingback: PLTN di Dunia « Indone5ia

  3. Pingback: MOTOR Listrik Arus Searah « Indone5ia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s