Ayo dukung sistem pertanian organik


Ayo dukung sistem pertanian organik

25 November 2011

Secara teoritis banyak pakar pertanian ataupun ekologi yang sepaham bahwa sistem pertanian organik merupakan salah satu altematif solusi atas kegagalan sistem pertanian industrial.

Sayangnya praktek-praktek sistem pertanian organik belum memiliki greget yang mengakar dalam masyarakat petani Bali. Pioner-pioner pertanian organik yang muncul di beberapa daerah masih berjuang keras meyakinkan para petani atau masyarakat sekitar tentang manfaat sistem pertanian organik bagi kesinambungan kehidupan alamiah dan manusia. Bahkan tidak jarang para pelaku pertanian organik mendapat sindiran atau cemoohan dari petani lain yang sudah gandrung dengan pertanian industrial yang terkenal rakus bahan kimia dan mahal. Gerakan pertanian organik kurang mendapat tanggapan yang luas karena para petani kita sebagian besar terlanjur berpola pikir dan pola sikap seperti pada masa orde baru.

 

Program-program pembangunan pertanian yang dicanangkan pemerintah untuk mendukung sistem pertanian ramah lingkungan juga belum memberikan hasil yang nyata. Program Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) yang dulu terbukti cukup efektif meredam penggunaan pestisida saat ini sudah tidak dilaksanakan oleh para petani, karena proyek PHT dianggap sudah selesai. Oleh karena itu, diperlukan adanya gerakan moral sistem pertanian organik yang diprakarsai oleh para aktivis lingkungan dan petani maju dengan dukungan pemerintah, serta program aksi yang terencana, tertata, dan terselenggara secara nyata dalam masyarakat pertanian secara luas.

Para penentu kebijakan pertanian di Indonesia diharapkan tidak lagi berorientasi pada program-program yang memburu target produksi (product oriented), misalnya Gerakan Mandiri Padi, Palawija, dan Jagung (Gema Palagung), Gerakan Mandiri Protein Ternak dan Ikan (Gema Protekan), dan sebagainya. Tolok ukur keberhasilan pembangunan bukan lagi hanya di lihat dari satu aspek, yaitu tingginya produktivitas, namun juga aspek sustainabilitas sumber daya alam.

Ada semacam pesimisme di kalangan penentu kebijakan pada masa transisi dari pertanian industrial ke pertanian organik bahwa akan terjadi degradasi produksi pangan yang pada gilirannya dikhawatirkan menimbulkan bahaya kekurangan pangan. Sistem pertanian organik pada awalnya diragukan kemampuannya untuk memacu produksi sebesar sistem pertanian industrial. Namun demikian, dalam jangka panjang pertanian organik justru dapat mempertahankan produktivitas lahan dan basil panen secara berkesinambungan. Sebaliknya, sistem pertanian industrial lebih berorientasi jangka pendek atau sesaat dengan cara-cara eksploitasi sumber daya alam, rekayasa biologi, ataupun rekayasa social untuk mengejar produktivitas hasil panen yang harus berpacu dengan laju pertumbuhan penduduk dan kehutuhan bahan pangan.

Kelahiran beberapa organisasi non-pemerintah (ornop) yang peduli lingkungan pada akhir pemerintahan orde baru membawa angin segar bagi gerakan pemberdayaan masyarakat pertanian yang lebih berorientasi jangka panjang. Misalnya, di Jawa, Jaringan Kerja Organisasi Pertanian Organik secara intens melakukan upaya pemberdayaan petani organik melalui berbagai pertemuan dengan masyarakat tani dalam bentuk seminar atau sarasehan dengan para pakar pertanian. Di daerah Sumatra Barat, beberapa petani membentuk lembaga Persatuan Petani Organik untuk mewadahi berbagai aspirasi dan tukar pengalaman antar-anggota dalam pengembangan pertanian organik. Di Bali, para ilmuwan, peneliti, pengusaha, petani, dan penyuluh pertanian telah mendeklarasikan Asosiasi Pertanian Organik (Aspernik) yang berupaya menjaga kelestarian alam sebagai aset kehidupan dan agrowisata sepanjang zaman.

Secara teknis, sistem pertanian organik merupakan suatu sistem produksi pertanian di mana bahan organik, baik makhluk hidup maupun yang sudah mati, menjadi faktor penting dalam proses produksi usaha tani tanaman, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Penggunaan pupuk organik (alami atau buatan) dan pupuk hayati serta pemberantasan hama, penyakit, dan gulma secara biologis adalah contoh-contoh aplikasi sistem pertanian organik (Sugito dkk., 1995). Sistem pertanian organik sebenamya adalah warisan para leluhur kita yang sebagian besar petani, namun banyak petani sekarang justru berpaling pada pertanian yang rakus akan bahan-bahan kimia.

Enam prinsip standar (Seymour, 1997) kriteria sistem pertanian organik

  1. localism. Pertanian organik berupaya mendayagunakan potensi lokal yang ada sebagai suatu agroekosistem yang tertutup dengan memanfaatkan bahan-bahan baku atau input dari sekitarnya.
  2. Perbaikan tanah (soil improvement). Pertanian organik berupaya menjaga, merawat, dan memperbaiki kualitas kesuburan tanah melalui tindakan pemupukan organik, pergiliran tanaman, konservasi lahan, dan sebagainya.
  3. Meredam polusi (pollution abatement). Pertanian organik dapat meredam terjadinya polusi air dan udara dengan menghindari pembuangan limbah dan pembakaran sisa-sisa tanaman secara sembarangan serta menghindari penggunaan bahan sintetik yang dapat menjadi sumber polusi.
  4. Kualitas produk (quality of product). Pertanian organik menghasilkan produk-produk pertanian berkualitas yang memenuhi standar mutu gizi dan aman bagi lingkungan serta kesehatan.
  5. Pemanfaatan energi (energy use). Pengelolaan pertanian organik menghindari sejauh mungkin penggunaan energi dari luar yang berasal dari bahan bakar fosil yang benipa pupuk kimia, pestisida, dan bahan bakar minyak (solar, bensin, dan sebagainya).
  6. Kesempatan kerja (employment). Dalam mengelola usaha tani organiknya, para petani organik memperoleh kepuasan dan mampu menghargai pekerja lainnya dengan upah yang layak.

Keunggulan sistem pertanian organik

  1. Sistem pertanian organik lebih mengandalkan keaslian atau orisinalitas sistem budi daya tanaman ataupun hewan dengan menghindari rekayasa genetika ataupun introduksi teknologi yang tidak selaras alam. Intervensi budi daya manusia terhadap tanaman atau hewan tetap mengikuti kaidah-kaidah alamiah yang selaras, serasi, dan seimbang. Namun demikian, pertanian organik tidak berarti anti teknologi baru, sejauh hal itu memenuhi azas selaras, serasi, dan seimbang dengan alam.
  2. Sistem pertanian organik berbasis pada rasionalitas bahwa hukum keseimbangan alamiah adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia sebagai bagian dari sistem jagad raya bukan ditakdirkan menjadi penguasa alam raya. tetapi bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya. Nilai-nilai rasionalitas harus digunakan secara seimbang dengan sistem nilai agama, etika, dan estetika yang menempatkan manusia sebagai makhluk paling mulia.
  3. Saat ini, sistem pertanian organik menjadi isu global dan mendapat respon serius di kalangan masyarakat pertanian, terutama di negara-negara maju di mana masyarakat sudah sangat sadar bahwa pertanian ramah lingkungan menjadi faktor penentu kesehatan manusia dan kesinambungan lingkungan. Pada berbagai pertemuan ilmuwan lingkungan tingkat dunia, tema sistem pertanian organik selalu menjadi agenda utama dan menarik karena menyangkut kepentingan global atau kepentingan bersama umat manusia di planet bumi ini.
  4. Sistem pertanian organik menempatkan keamanan produk pertanian. baik bagi kesehatan manusia ataupun bagi lingkungan, sebagai pertimbangan utama. Pertimbangan berikutnya adalah kuantitas dan kualitas komoditas pertanian, termasuk kecukupan kadar gizi dan volume yang mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia.
  5. Sistem pertanian organik tidak menciptakan ketergantungan atau bersifat netral sehingga tidak memihak pada salah satu bagian ataupun pelaku dalam sistem agroekosistem. Hubungan saling ketergantungan atau simbiosis yang terbina antar pelaku sistem lebih bersifat mutualisme atau saling menguntungkan. Sistem pertanian industrial telah menciptakan ketergantungan petani pada penggunaan benih unggul, pestisida, dan pupuk kimia buatan pabrik. Eksistensi kemandirian petani tereduksi oleh hubungan ekonomi yang menempatkan nilai uang di atas segala-galanya.
  6. Sistem pertanian organik selalu berupaya mendayagunakan potensi sumber daya alam internal secara intensil Artinya, introduksi input-input pertanian dari luar ekosistem (external inputs) pertanian sedapat mungkin dihindari untuk mengurangi terjadinya disharmoni siklus agroekosistem yang sudah berlangsung lama dan terkendali oleh kaidah hukum alam.
  7. Sistem pertanian organik tidak berorientasi jangka pendek, tetapi lebih pada pertimbangan jangka panjang untuk menjamin keberlanjutan kehidupan, baik untuk generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Bumi seisinya ini bukanlah milik kita tetapi merupakan titipan anak cucu kita.

Kesimpulan

Pemerintah sudah berkomitmen bahwa subsidi terhadap harga input pertanian akan semakin dikurangi. Akibatnya, para petani sekarang merasakan mahalnya harga-harga sarana produksi pertanian. Usaha tani padi dengan Skala kurang dari setengah hektar tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarga tani, sebab besamya ongkos produksi sama dengan hasil penjualan sehingga pola kesejahteraan petani cenderung stagnan atau evolutif. Nilai tukar hasil-hasil pertanian pangan dalam satu dasawarsa terakhir semakin menurun karena fluktuasi harga dan pengurangan subsidi oleh pemerintah. Oleh karena itu, dalam upaya untuk meningkatkan hasil pertanian organik diperlukan campur tangan pemerintah secara langsung kepada petani.

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE atau SUKA,KOMENTARI & BAGIKAN halaman facebook berikut -> Catatan Fendy Sutrisna

Pustaka
Sistem pertanian berkelanjutan Oleh Karwan A. Salikin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s