Kondisi Kelistrikan di Beberapa Wilayah Indonesia


KONDISI KELISTRIKAN DI BEBERAPA WILAYAH INDONESIA

Kadek Fendy Sutrisna

17 Desember 2011

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Sistem kelistrikan Indonesia diluar sistem Jawa – Bali dan Madura yang terinterkoneksi, sebagian besar merupakan sistem kelistrikan yang relatif belum berkembang. dimana satu sama lainnya masih terisolasi. Sistem masih terdiri dari sub-sistem dan sub-sistem kecil yang masing-masing terpisah satu sama lain dan masih terdapat di daerah-daerah terpencil yang terisolasi. Berikut adalah kondisi kelistrikan di setiap wilayah di Indonesia per tahun 2004 :

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kondisi kelistrikan di NAD terdiri dari beberapa sistem kelistrikan dengan beban puncak mencapai 192 MW. Beberapa sistem sudah terintegrasi dengan Sumatra Utara melalui jaringan 150 kV dan telah menyalurkan daya kurang lebih 94 MW. Pemanfaatan PLTD masih digunakan di berbagai daerah tersebar di NAD terutama bagi daerah yang belum terhubung dengan jaringan. Desa terlistriki untuk wilayah NAD sudah mencapai 94% dengan rasio elektrifikasi sebesar 67%.

Sumatra Utara, pertumbuhan infrastruktur tenaga listrik di Sumatra Utara diperkirakan masih tinggi yaitu sebesar 7,7% pertahun. Tingkat permintaan energi listrik di Sumatra Utara adalah yang terbesar di Pulau Sumatra saat ini, namun rasio elektrifikasinya masih rendah, baru mencapai 69%. Tarif listrik di Sumatra Utara belum mencapai tingkat keekonomiannya. Saat ini adanya wacana untuk memberlakukan tarif regional dan sedang dibahas dengan DPRD setempat.

Sumatra Barat, desa berlistrik sudah mencapai 90% sedangkan rasio elektrifikasinya baru mencapai 60%. Sistem kelistrikan Sumatra Barat sudah terintegrasi dengan sistem kelistrikan di Riau, namun masih terdapat tiga sistem yang terisolasi karena terkendala masalah kondisi geografisnya. Daya terpasang saat ini sebesar 675 MW dengan kemampuan suplai energi listrik sebesar 605 MW, sedangkan beban puncak mencapai 486 MW.

Riau, tenaga listrik di Riau tidak hanya disuplai oleh PT. PLN namun juga terdapat captive power dengan total kapasitas terpasang sekitar 2.135 MW yang terdiri dari PLTU 855 MW, 690 MW, dan PLTD sebesar 590 MW. Jumlah desa terlistriki baru sebesar 50% dengan rasio elektrifikasi sebesar 38%. Sebagian besar kelistrikan Riau sudah terhubung dengan Sumatra Barat. Kondisi geografis Riau terdiri dari kepulauan sehingga penyediaan energi listrik untuk konsumen disuplai melalui beberapa sistem kecil yang terisolasi. Beban puncak mencapai 300 MW terdiri pada sistem integrasi mencapai 168 MW dan sistem terisolasi sebesar 132 MW. Riau menerima pasokan dari Sumatra Barat sebesar 20 MW sampai dengan 50 MW.

Jambi, penduduk Jambi mencapai 2,4 juta jiwa dan yang memperoleh aliran listrik dari PT. PLN (Persero) hanya mencapai 37% dengan total pelanggan 219 ribu. Sistem kelistrikan di Propinsi Jambi sudah terintegrasi dengan Propinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu. Disamping itu masih terdapat kebutuhan tenaga listrik di Propinsi Jambi yang disuplai dengan sistem yang terisolasi. Beban Puncak untuk sistem integrasi di Jambi mencapai 60 MW dan sistem yang terisolasi dengan perkiraan beban puncak 28 MW dengan total konsumsi listrik mencapai 497 GWH. Kapasitas terpasang sistem terisolasi mencapai 147 MW yang disuplai dengan PLTD. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Propinsi Jambi juga disuplai dengan captive power yang diperkirakan mencapai 280 MVA, yang terdiri dari pembangkit utama sebesar 225 MVA dan 55 MVA sebagai cadangan. Sesuai kebijakan Pemerintah Daerah dan rencana tata ruang daerah telah diperuntukan beberapa daerah sesuai keperluannya seperti daerah pariwisata terdapat di Jambi Bagian Barat, lahan pertanian, perkebunan dan kehutanan diperuntukan di Propinsi Jambi Bagian Tengah, Jambi Bagian Timur akan dikembangkan menjadi daerah kawasan industri.

Sumatra Selatan, sistem kelistrikan di Propinsi Sumatera Selatan sudah terintegrasi dengan Propinsi Jambi dan Bengkulu. Sebagian kecil kebutuhan tenaga listrik disuplai dengan sistem yang terisolasi berkisar 47 GWH atau dengan beban puncak 13 MW. Beban Puncak yang dicapai untuk sistem integrasi di Sumatera Selatan mencapai 285 MW dengan konsumsi listrik mencapai 1500 GWH. Kapasitas terpasang sistem terisolasi hanya mencapai 22 MW yang disuplai dengan PLTD. Disamping listrik dari PT PLN (Persero) juga terdapat captive power yang diperkirakan mencapai 816 MVA, yang terdiri dari pembangkit utama sebesar 610 MVA dan 206 MVA sebagai cadangan.

Bengkulu, beban puncak di Propinsi Bengkulu mencapai 48 MW dan sebagian besar sudah terintegrasi dengan total konsumsi listrik 225 GWH. Khusus untuk remote area dan listrik perdesaan masih disuplai sistem yang terisolasi dengan beban puncak 7 MW dan konsumsi 23 GWH. Kapasitas terpasang untuk area yang terisolasi diperkirakan sebesar 20 MW yang disuplai melalui PLTD dan 1,7 MW melalui PLTM. Rasio elektrifikasi Propinsi Bengkulu telah mencapai 50% lebih tinggi dibandingkan dengan Propinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Melalui Renstra Pemerintah Daerah Propinsi Bengkulu, seluruh desa diharapkan sudah dapat menikmati aliran listrik dengan mengupayakan masuknya listrik pada daerah yang sulit dijangkau dengan pemanfaatan energi setempat seperti PLTMH dan PLTS.

Lampung, propinsi Lampung terdiri dari 1.940 desa, dan yang belum mendapat aliran listrik sebanyak 690 desa atau terdapat 35% desa yang belum berlistrik. Kapasitas terpasang terdiri dari PLTD dan PLTA dengan daya terpasang 230 MW dan daya mampu mencapai 139 MW sedangkan beban puncak mencapai 290 MW. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 30% dari kebutuhan yang ada telah disuplai dari sistem pembangkit Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Selain penyediaan tenaga listrik yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) terdapat penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri (captive power) sebagai penggunaan utama maupun cadangan pada industri. Total daya terpasang captive power di Propinsi Lampung mencapai 184 MVA dengan 106 pemegang izin.

Bangka Belitung, Jumlah penduduk Propinsi Kepulauan Bangka Belitung 0,9 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4% per tahun dengan komoditi strategis pariwisata, pertanian, kelautan dan industri. Kondisi kelistrikan disuplai oleh PT PLN (Persero) dan pihak swasta untuk pemakaiannya sendiri dari PT Timah Tbk, dan PT Koba Tin. Melalui PT PLN (Persero) Propinsi Kepulauan Bangka dan Belitung memiliki daya mampu sebesar 31 MW dan beban puncak mencapai 31 MW. Penambahan daya dalam waktu dekat sangat diperlukan. Rasio elektrifikasi sudah mencapai 62% dari 185 desa, sedangkan desa yang belum berlistrik berjumlah 84 desa. Pemerintah Daerah sangat mendorong pencapaian diversifikasi energi. Dengan adanya PLTU batubara skala kecil memungkinkan penganekaragaman sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik dan dapat mensubstitusi pemakaian BBM. Pemerintah Daerah juga sedang merumuskan tarif listrik regional.

Gambar 1 Jaringan Transmisi Pulau Sumatra

Batam, Kelistrikan di Batam disuplai oleh PT. Batamindo yang melistriki industri dan PT. PLN Batam. Kapasitas pembangkit PLN termasuk sewa adalah 195 MW sedangkan Non-PLN 150 MW. Kelistrikan yang disuplai oleh PLN Batam selama sepuluh tahun yang lalu tumbuh rata-rata 20 % per tahun. Produksi dan penjualan tenaga listrik sampai Desember 2003 berturut-turut adalah 725 GWh dan 656 GWh yang melayani konsumen rumah tangga 31%, komersial 46%, industri 14% dan publik dan lainnya adalah 9%. Penanganan losses jaringan telah berhasil dicapai dengan baik yang turun dari 35% sepuluh tahun yang lalu menjadi 9,5% saat ini. Beban puncak mencapai 117 MW dan daya mampu dari total kapasitas 195 MW adalah 156 MW. Untuk menyalurkan tenaga listrik dari pusat pembangkit kepada konsumen telah ada jaringan transmisi 150 KV sepanjang 25 kms dengan gardu induk kapasitas 180 MVA.

Gambar 2  Jaringan Transmisi Pulau Batam

Kalimantan Timur, Jenis pembangkit tenaga listrik yang banyak dikelola PT PLN (Persero) adalah PLTD dengan daya terpasang pada tahun 2002 sebesar 296 MW, yang umumnya sudah berumur 15 sampai 25 tahun. Selain itu terdapat juga Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) dengan daya terpasang 60 MW (3 x 20 MW) di Tanjung Batu, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), sebesar 200 kW di desa Sekolaq Darat Kutai Barat. Permintaan tenaga listrik sangat tinggi berkisar 12% per tahun namun yang dapat dilayani hanya mencapai 8.5% per tahun. Dalam rangka optimasi penyediaan energi untuk menjangkau daerah-daerah terpencil dan terisolir agar tercapai pemerataan pembangunan, maka sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2002 telah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) melalui dana APBN dan APBD sebanyak 92 unit. Kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Timur pada sektor tenaga listrik selalu mendorong dan memberi kemudahan perizinan khususnya dalam rangka penyediaan tenaga listrik. Disamping itu Pemda juga mengalokasikan dana pembangunan untuk penyediaan tenaga listrik.

Kalimantan Tengah, Keadaan kelistrikan di Propins  Kalimantan Tengah yang diselenggarakan oleh PT PLN (Persero) secara umum masih mengandalkan suplai dari Pembangkit Listrik tenaga diesel dan juga sebagian disuplai dari PLTU Asam-Asam yang diterima melalui jaringan SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) 150 kV di GI Selat Kuala Kapuas. Suplai dari PLTU Asam-asam yang disalurkan ke Kalimantan Tengah tergantung kebutuhan beban di Kalimantan Tengah serta kelebihan daya yang dipakai di Kalimantan Selatan. Kapasitas terpasang pembangkit di Kalimantan Tengah 429 MW, daya mampu 320 MW, dengan beban puncak 198,707 MW. Dewasa ini desa berlistrik untuk wilayah Kalimantan Tengah telah mencapai 88,04%, dengan rasio elektrifikasi sebesar 87,38 % dan diharapkan pada tahun 2012 rasio elektrifikasi mencapai 100 %.

Kalimantan Selatan, sampai saat ini sistem kelistrikan di Propinsi Kalimantan Selatan masih dilayani oleh PT PLN (Persero). Namun dengan keterbatasan sumber daya pembangkit listrik beberapa pelaku industri memproduksi sendiri energi listriknya, bahkan industri tersebut menjual kelebihan energinya kepada PT PLN (Persero). Perbandingan pembangkitan antara PT PLN (Persero) dan non PT PLN (Persero) di propinsi ini mencapai 48,75 % : 51,25 % dengan total daya 645 MVA. Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan dengan jumlah penduduk sebesar 2.999.262 jiwa dan jumlah rumah tangga sebanyak 824.396 keluarga memiliki pelanggan listrik sejumlah 475.401 (BPS, 2002) Rasio elektrifikasi rumah tangga Propinsi Kalimantan Selatan sebesar 57,67 %. Dengan kondisi dana yang terbatas untuk investasi dan pengembangan, PT PLN (Persero) masih mengalami devisit di setiap tahun, dalam situasi tersebut beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelayanan adalah:

  • Perbaikan mesin pembangkit yang rusak dan pemeliharaan periodik tepat waktu
  • Penambahan sewa mesin swasta
  • Pembelian energi listrik pada swasta
  • Penundaan penyambungan baru dan tambah daya selama daya mampu mesin pembangkit masih terbatas.

Kondisi perkembangan permintaan dan suplai energi listrik diwilayah Kalimantan Selatan dilayani oleh sistem pembangkit dengan total daya terpasang sebesar 310 MW yang terdiri dari jenis PLTA 130 MW, PLTD 180 MW.

Kalimantan Barat, permintaan tenaga listrik Kalimantan Barat tumbuh rata-rata 8,65 % pertahun. Beban puncak sistem Kelistrikan Kalimantan Barat telah mencapai 175,85 MW pada tahun 2003. Kapasitas terpasang 296,40 MW yang sebagian besar terdiri dari pembangkit PLTD, total kapasitas tersebut daya mampu adalah 213 MW. Konsumsi tenaga listrik menjadi 894,23 GWh pada tahun 2003 dengan didominasi oleh pelanggan rumah 51 % dari total konsumsi listrik kemudian diikuti oleh sektor industri sebesar 26 %, komersial 16 %, umum dan sosial 7% pada tahun 2003, Pemerintah Daerah mendukung kebijakan Pemerintah dalam upaya mendesak untuk mengatasi kekurangan tenaga listrik dalam hal sebagai berikut:

  1. Kebijakan pemanfaatan Captive Power
  2. Kebijakan demand side management (DSM) untuk konservasi energi
  3. Kebijakan lintas sektoral dalam pembangunan tenaga listrik mulai tahap perencanan sampai dengan pembangunan melibatkan instansi terkait.

Gambar 3  Jaringan Transmisi Pulau Kalimantan

Sulawesi Selatan, konsumsi energi listrik pada tahun 2002 per sektor pemakai masing-masing: Rumah Tangga 898 GWh; Komersial 297 GWh; Industri 886 GWh; dan sektor lainnya 962 GWh. Total konsumsi energi listrik pada tahun 2002 sebesar 3.041,35 GWh dan pada tahun 2003 menjadi 3.206,42. Terjadi pertumbuhan permintaan sebesar 5,4%.
Kebutuhan listrik di Propinsi Sulawesi Selatan saat ini dipenuhi dari sistem kelistrikan Sulawesi Selatan, dengan daya terpasang pada tahun 2002 sebesar 605 MW, daya mampu 510 MW, beban puncak 446 MW, reserve margin hanya 14%.
Daya terpasang ini dipenuhi dari berbagai macam jenis pembangkit, masing-masing: PLTA (127,62 MW), PLTU (25 MW), PLTG (122,72), PLTGU (135 MW), dan PLTD (193,51 MW). Desa terlistriki saat ini mencapai 71,64% dari jumlah desa 2.953, dan Rasio elektrifikasi mencapai 63%. Kota/Kabupaten yang telah terlistriki 100% yaitu Makassar dan Pare-Pare, sedangkan Kabupaten yang masih rendah rasio desa terlistriki yaitu Tana Toraja (45,52%), Mamuju (39,13%), Polmas (23,40%, dan Selayar (33,33%). Untuk menghindari krisis energi listrik akibat keterbatasan dana untuk penyediaan tenaga listrik dan ketidak mampuan pemerintah dalam membangun Pembangkit baru, maka untuk merangsang minat investor dalam usaha penyediaan tenaga listrik dengan segera memberlakukan Tarif Listrik Regional.

Kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Selatan di bidang ketenagalistrikan antara lain meliputi :

  • Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada BUMN, BUMD, Koperasi, dan Swasta untuk ikut dalam pengusahaan tenaga listrik.
  • Memberikan kesempatan yang sama pada semua pelaku usaha di sektor ketenagalistrikan.
  • Memungkinkan penerapan kompetisi di masa mendatang.
  • Mempercepat program elektrifikasi kepada seluruh masyarakat.
  • Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan akan menjadi fasilitator bagi investor demi terwujudnya industri ketenagalistrikan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan melalui pemberdayaan sumber daya energi yang optimal.

Sulawesi Tenggara,  penduduk di Propnsi Sulawesi Tenggara berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS tahun 2002 berjumlah 1.915.326 jiwa. PDRB perkapita penduduk Sultra pada tahun 2001 sebesar Rp. 3.774.412,39 dan meningkat menjadi Rp. 4.192.709,07 pada tahun 2002, ini berarti terjadi peningkatan sebesar 11,08 %. PDRB perkapita atas dasar harga konstan 1993, pada tahun 2001 tercatat Rp. 972.386 meningkat menjadi Rp. 981.548 pada tahun 2002, atau terjadi peningkatan sebesar 0,94 %. Penyediaan Listrik pada tahun 2003 dengan kapasitas daya terpasang 69,10 MW, daya mampu 47,29 MW dan beban puncak sebesar 44,7 MW.

Sulawesi Utara,
Penyediaan Listrik pada tahun 2003 tersedia kapasitas terpasang pembangkit 199,73 MW, daya mampu 155,47 MW, beban puncak 131,11 MW. Rasio elektrifikasi mencapai 65,25% dengan desa berlistrik telah mencapai 100%.

Pengembangan ekonomi di masa mendatang meliputi:

  1. Kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET MANADO-BITUNG)
  2. Kawasan Sentra Produksi (KSP)
  3. Kawasan Andalan (KADAL)
  4. Kawasan Sentra Produksi Agrobisnis Komoditas Unggulan (SPAKU)
  5. Kawasan Sentra Industri Kecil
  6. Pengembangan Kawasan Tertinggal (PKT)

Kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Utara di bidang ketenagalistrikan antara lain meliputi:

  1. Mendorong upaya penyesuaian TDL sesuai dengan nilai keekonomian yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.
  2. Penyediaan tenaga listrik untuk wilayah terpencil dan masyarakat miskin (Lisdes) diupayakan dengan memanfaatkan sumber energi setempat terutama energi terbarukan.
  3. Memberikan kemudahan kepada calon investor di bidang ketenagalistrikan.
  4. Mendorong pelaksanaan TDL regional bagi wilayah potensial seperti Manado dan Bitung.

Sulawesi Tengah, luas wilayah Propinsi Sulawesi Tengah 68.033 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2002 sebesar 2.215.449 dengan pertumbuhan 2 %. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2003 mencapai 5,56 juta rupiah dengan laju pertumbuhan 6,69%. Permintaan energi listrik selama periode 1995–2000 dengan rata-rata pertumbuhan 9,86% pertahun. Bila dilihat dari penjualan per kelompok pelanggan, maka pertumbuhan rata-rata masing-masing pelanggan adalah rumah tangga 12,93%, komersial 11,39%, industri 7% per tahun. Jumlah desa 859 desa dan total desa berlistrik sudah berjumlah 712 desa atau mencapai 83,47%, sementara desa yang belum terlistriki berjumlah 147 desa. Kendala dalam pengembangan kelistrikan di Sulawesi Tengah antara lain kekurangan pendanaan untuk menambah pembangkit baru, harga jual listrik masih jauh di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP) sehingga sulit mencapai nilai keekonomiannya. Akibatnya sulit untuk membiayai investasi baru dan salah satu
penghambat bagi investor untuk menanamkan modalnya di bidang ketenagalistrikan.

Kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Tengah di bidang ketenagalistrikan antara lain meliputi :

  1. Optimalisasi pemanfaatan potensi sumber daya energi primer terutama pengembangan PLTA yang memanfaatkan potensi Danau Lindu dan yang lainnya.
  2. Peningkatan Program Listrik Perdesaan.
  3. Peningkatan partisipasi masyarakat dengan pihak-pihak lainnya dalam menjaga dan memelihara peralatan jaringan distribusi listrik.
  4. Mengikut-sertakan partisipasi swasta dan koperasi dalam pembangunan sektor ketenagalistrikan.
  5. Arah pengembangan pembangkit di masa mendatang akan mengutamakan penggunaan sumber energi primer yang renewable (PLTA/PLTM dan PLTP).

Gorontalo,  kebutuhan energi listrik Provinsi Gorontalo disuplai oleh PT PLN (Persero) Cabang Gorontalo dengan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), dari 2 sistem yaitu Sistem Gorontalo dan Sistem Marisa. Pertumbuhan pemakaian listrik selama periode 1997–2002 rata-rata sebesar 11,1% per tahun dengan pemakaian energi listrik pada tahun 2002 per sektor pemakai masing-masing Rumah Tangga 54,39 GWh, Industri 13,5 GWh, Komersial 7,15 GWh, Sosial sebesar 2,94 GWh, dan Publik 5,97 GWh. Berdasarkan prosentasenya, sektor rumah tangga merupakan pemakai listrik terbesar dari total pemakai listrik di Provinsi Gorontalo yaitu 64%, Bisnis 16%, dan yang sektor pemakai lainnya di bawah 9%.

Gambar 4  Jaringan Transmisi Pulau Sulawesi

Nusa Tenggara Barat, selama kurun waktu 1995–2003 tingkat pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik rata-rata 11% pertahun, sedangkan PDRB sebesar 7%, sehingga elastisitas pertumbuhan listrik mencapai 1,5. Beban puncak wilayah Nusa Tenggara Barat sampai saat ini mencapai 93,5 MW atau 91,3% dari daya mampu. Berdasarkan asumsi pertumbuhan beban puncak 6,8% pertahun maka akhir tahun 2004 beban puncak akan mencapai titik kritis yaitu setinggi 99%. Jumlah pelanggan listrik sampai awal tahun 2002 mencapai 347.193 pelanggan. Untuk pelanggan PT PLN (Persero) sebanyak 330.970 pelanggan, dengan komposisi konsumen rumah tangga sebanyak 309.603 (93,54%) dan komersial sebanyak 10.430 (3,15%) dengan jumlah daftar tunggu pelanggan sebanyak 9.300. Captive power (cadangan daya) dari PT Newmont Nusa Tenggara sebesar 185,345 MW dan desa berlistrik di NTB sampai tahun 2002 sebesar 97,45% dengan rasio elektrifikasi masih rendah yaitu sebesar 42,5%. Pemerintah Daerah membuka kesempatan untuk membangun pembangkit skala kecil dengan prioritas menggunakan sumber energi baru dan terbarukan. Sesuai kondisi geografis dan 80% penduduk yang tersebar dan untuk melistriki daerah terpencil ini mengharuskan untuk mengembangkan pembangunan tenaga listrik spesial dalam satu sistem cluster yang bertumpu pada sumber energi setempat.

Nusa Tenggara Timur,  Kelistrikan di Propinsi Nusa Tenggara Timur dipasok oleh PLTD dengan jumlah daya terpasang sebesar 98.657 kW dan PLTM sebesar 1,260 kW. Total daya terpasang sebesar 99.917 kW. Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir PT PLN (Persero) wilayah Nusa Tenggara Timur mengalami kekurangan daya sehingga harus ada pemadaman bergilir. Untuk mengatasi pemadaman tersebut dilakukan sewa genset 5.000 kW. Pada tahun 2003 PT PLN (Persero) Nusa Tenggara Timur telah dapat menambah daya terpasang 4.700 kW sehinga sewa genset tersebut dihentikan. Sampai tahun 2002 desa berlistrik sudah mencapai 1.068 desa dari total desa yang ada yaitu kurang lebih mencapai 2.545 desa sehingga rasio desa berlistrik adalah sebesar 41,96% dengan rasio elektrifikasi sebesar 25,36 % dan jumlah pelanggan rumah tangga 67 %.

Maluku, jumlah penduduk Propinsi Maluku saat ini mencapai 1 juta jiwa dengan jumlah desa 791. Desa berlistrik mencapai 449 atau 57% dari jumlah desa yang ada. Sedangkan rasio elektrifikasi baru mencapai 47% sedangkan daftar tunggu diperkirakan 1.800 pelanggan dengan perkiraan daya tersambung 1.300 KVA. Melalui PT PLN (Persero) kapasitas terpasang mencapai 51 MW yang terdiri dari sebagian besar disuplai melalui PLTD. Daya mampu 42 MW dengan beban puncak sudah mencapai 34 MW.

Maluku Utara,  propinsi Maluku Utara memliki 8 Kabupaten dan 2 Kota yang terdiri dari 45 kecamatan dengan jumlah desa 756. Propinsi ini merupakan wilayah kepulauan terdiri dari 395 buah pulau. Jumlah penduduk pada tahun 2002 sebanyak 0,84 juta jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 2,2% per tahun. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 1999 dan 2000 menunjukkan petumbuhan negatif masing-masing –14,6 % dan –6,4 %, sedangkan pada dua tahun berikutnya yaitu tahun 2001 dan 2002 menunjukan angka positif yaitu masing-masing sebesar 1,6% dan 2,1 %. Sektor pertanian memberikan kontribusi yang signifikan sebesar 28,4 % yang kemudian diikuti sektor perdagangan sebesar 23,2%, industri 19,5%, pertambangan 11,5%, jasa 9,6%, angkutan dan komunikasi 7,6% dan lainnya. Sistem kelistrikan yang dilayani melalui PT PLN (Persero) terdiri dari 1 sistem unit besar, 5 unit menengah dan 24 unit kecil. Mengingat kondisi dan geografis yang ada kebutuhan tenaga listrik belum mampu mencukupi secara menyeluruh. Secara total kapasitas terpasang baru mencapai 43 MW, dengan daya mampu 21MW dengan beban puncak mencapai 18 MW melayani 68.000 pelanggan.

Papua, sistem kelistrikan di Papua terdiri dari 10 sistem besar dengan beban puncak lebih besar dari 1 MW dan sistem yang terisolasi. Sistem tersebut adalah Jayapura, Biak, Sorong, Manokwari, Merauke, Timika, Wamena, Serui, Fak-fak, dan Nabire. Pada Desember 2003 daya terpasang mencapai 145 MW dengan daya mampu 97 MW dan beban puncak 82 MW. Pembangunan pembangkit yang sedang berjalan (commited project) terdiri dari PLTA 19,2 MW, PLTM 5,94 MW dan PLTD 16,7 MW. Konsumsi tenaga listrik pada tahun 2002 mencapai 331 GWH. Penjualan tenaga listrik disalurkan melalui jaringan tegangan menengah sepanjang 1364 kms, dan jaringan tegangan rendah sepanjang 1998 kms. Kondisi geografis sulit dijangkau sehingga jumlah desa berlistrik mencapai 481 desa atau sekitar 15%.

Bali,  seluruh desa di Bali sudah mendapat aliran listrik, namun rasio elektrifikasi mencapai 80 %. Total konsumsi listrik mencapai 1.670 GWH dengan komposisi penjualan tenaga listrik terbesar di Bali adalah sektor komersial sebesar 45,2%,
kemudian sektor rumah tangga 44,6%, publik serta sosial mencapai 5,8% dan industri 4,4. Beban puncak di Bali mencapai 358 MW yang terjadi bulan Desember 2003. Memenuhi beban puncak diperoleh dari interkoneksi dengan Jawa 200 MW, PLTD Pesanggaran 120 MW dan PLTG Gilimanuk 130 MW.

Jawa Timur,  Penduduk Jawa Timur pada saat ini mencapai 35 juta jiwa, dengan jumlah desa 8.464. Desa berlistrik sudah mencapai 8.247 desa atau dengan rasio desa berlistrik 97% sedangkan rasio elektrifikasi mencapai 62%. Penjualan tenaga listrik di Jatim mencapai 14.869 GWh sampai dengan Desember 2003 dengan komposisi 47 % pelanggan industri, rumah tangga 39 %, sektor komersial 9 % dan umum kurang lebih 5 %. Perkembangan penjualan tenaga listrik tahun 1998-2003 menunjukkan bahwa konsumsi tenaga listrik telah tumbuh sebesar 6 % per tahun. Beban puncak mencapai 2.994 MW.

Gambar 5  Jaringan Transmisi Jawa Timur dan Bali

Jawa Tengah dan DIY,  penduduk Jawa Tengah pada saat ini mencapai 31 juta jiwa dan DIY 3,2 juta jiwa, dengan jumlah desa 8.543 di Jateng dan 438 di DIY. Desa berlistrik sudah mencapai 99 % sedangkan rasio elektrifikasi baru mencapai 59%. Penjualan tenaga listrik di Propinsi Jawa Tengah dan DIY mencapai 9.908 GWh sampai dengan Desember 2003 dengan komposisi 62% pelanggan rumah tangga, industri 22%, sektor komersial 10% dan umum kurang lebih 6%. Perkembangan penjualan tenaga listrik tahun 1999-2003 menunjukkan bahwa konsumsi tenaga listrik telah tumbuh sebesar 7 % per tahun. Beban puncak yang sudah dicapai sampai saat ini adalah 2.082 MW.

Gambar 6  Jaringan Transmisi Jawa Tengah dan DIY

Jawa Barat dan Banten, kebutuhan tenaga listrik dipenuhi dari sistem interkoneksi Jamali, pembangkit captive, serta pembangkit isolated. Propinsi Banten terdapat banyak industri yang menggunakan captive power yang diperkirakan mencapai 2.330 MW antara lain PT Krakatau Daya Listrik yang memiliki PLTU gas alam sebesar 400 MW yang waktu malam hari telah menjual listriknya ke PT PLN (Persero) sebesar 80 MW. Pembangkit besar yang ada di Propinsi Banten adalah PLTU Suralaya dengan total kapasitas terpasang 3.400 MW. Penduduk Jawa Barat pada tahun 2002 mencapai 37 juta jiwa, dengan jumlah desa 5.593. Desa berlistrik sudah mencapai 100% sedangkan rasio elektrifikasi baru mencapai 55%. Penjualan tenaga listrik di Propinsi Jawa Barat mencapai 25.840 GWH sampai dengan Desember 2003 dengan komposisi 57% pelanggan industri, rumah tangga 35%, sektor komersial 6% dan umum kurang lebih 2%. Perkembangan penjualan tenaga listrik tahun 1999-2003 menunjukkan bahwa konsumsi tenaga listrik telah tumbuh sebesar 7% per tahun.

DKI, penjualan tenaga listrik di DKI dan Tangerang mencapai 21.662 GWH sampai dengan Desember 2003 dengan komposisi 34% pelanggan rumah tangga, industri 32%, sektor komersial 27% dan umum kurang lebih 7%. Perkembangan penjualan tenaga listrik tahun 1998-2003 menunjukkan bahwa setelah mengalami kontraksi pada tahun 1998 sebesar –8,9%, konsumsi tenaga listrik telah tumbuh sebesar 7% per tahun. Berbeda dengan situasi kelistrikan di lain Propinsi dimana beban puncak terjadi pada malam hari sedangkan untuk DKI-Tangerang terjadi pada siang hari yang mencapai 3.783 MW pada tahun 2003. Penambahan rata-rata beban puncak adalah 222 MW per tahun dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Gambar 7  Jaringan Transmisi Jawa Barat dan DKI


Referensi :

1. KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Nomor: 0954 K / 30 / MEM / 2004 tentang RENCANA UMUM KETENAGALISTRIKAN NASIONAL

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Menerima jasa Konsultasi Studi Kelayakan (Feasibility Study, FS) untuk proyek Pembangkit Listrik, konsultansi meliputi pemilihan lokasi pembangunan pembangkit listrik, studi perhitungan daya dan energi listrik, studi sistem kelistrikan, membuat estimasi biaya pembangunan pembangkit listrik mencakup analisis harga satuan pekerjaan sipil, peralatan elektrikal-mekanik, peralatan jaringan transmisi-distribusi-instalasi rumah, pajak serta biaya pengembangan; memperkirakan komponen biaya operasional (fixed & variable O&M Cost); menghitung harga tarif yang tepat, analisa finansial, dan mematangkan segala langkah pembangunan dan operasional proyek pembangunan pembangkit listrik.
WA/Line : 0813378-01378,
Email : ir.fendysutrisna@gmail.com

ARTIKEL LAINNYA :
  1. Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Pada bagian akhir artikel ini dibahas lengkap tentang sistem PLTB variable speed untuk berbagai jenis generator.
  2. Sistem PLTB kecepaatan rendah dan berubah tanpa menggunakan roda gigi
  3. Kumpulan artikel tentang PLTA
  4. Kumpulan artikel tentang sel surya
  5. Kumpulan artikel tentang PLTN
  6. Kumpulan artikel tentang elektronika daya

Baca juga artikel lainnya tentang kelistrikan nasional disini :

  1. Kondisi kelistrikan beberapa daerah di Indonesia
  2. Kondisi kelistrikan Indonesia
  3. Energi untuk Indonesia yang lebih baik
  4. Kondisi dan pemasalahan energi di Indonesia

One thought on “Kondisi Kelistrikan di Beberapa Wilayah Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s