Wahai Putra-Putri Terbaik Bangsa, Menarilah di Ibu Pertiwi


Wahai Putra-Putri Terbaik Bangsa, Menarilah di Ibu Pertiwi

Kadek Fendy Sutrisna

11 Januari 2012

Tulisan di artikel ini dimaksud sebagai introspeksi bersama atas nasib dari perjuangan dan harta warisan yang sangat berharga yang dimiliki oleh bangsa Indonesia berupa putra-putri terbaik bangsa yang gemar menari. Menari dengan keselarasan dengan anak-anak lain dari ibu pertiwi dan dengan seluruh warga jagat semesta. Karena keindahan dan gemulaiannya dalam menari, seluruh dunia ingin memilikinya. Dan terjadilah bahwa sebagian putra-putri penari cantik ini pergi meninggalkan ibu pertiwi.

Si ibu pertiwi yang pernah mengandung dan melahirkan dibiarkan hidup merana. Hanya banjir dan kekeringan yang ditinggalkan. Para putra-putrinya kini menghuni kota-kota besar di negara maju. Mereka menghiasi rumah-rumah mewah, mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidup berkelimpahan dari masyarakat modern, melengkapi menu-menu makanan di restoran-restoran mahal, dan lain-lain. Di tanah asing, mereka tak mampu tampil cantik, apalagi menari dengan gemulai. Mereka tinggal sebagai topeng-topeng mati dan sebagai benda-benda konsumsi. Di tanah asing tiada lagi tarian alami.

Menyaksikan nasib diatas, membuat penulis ingin berinstrospeksi sebagai berikut : masih akan pergikah setiap putra-putri terbaik yang akan dihasilkan oleh bangsa ini? Masih akan tegakah kita melepasnya? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa diurai lebih panjang lagi : bisakah kita meratapi kepergian putra-putri terbaik Indonesia ini? Seandainya kepergian putra-putri ini tak bisa dihalangi, tidak mungkinkah kita membujuk mereka agar mau kembali membangun ibu pertiwinya? Seandainya kita berhasil membujuk mereka kembali, masihkah mereka secantik dan segemulai seperti sebelum mereka pergi? Atau jangan-jangan yang bisa kita datangkan kembali hanyalah putra-putri imitasi: janji-janji muluk dan komitmen-komitmen besar tanpa tindakan nyata. Inikah tindakan yang akan kita saksikan di masa depan?

REFERENSI :

1. The Dancing Leader, Hening-Mengalir-Bertindak, Ratusan Sungai Bergabung Menjadi Samudra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s