Pohon Perindang Jalan, Burung Kokokan vs Tiang Listrik PLN di Bali


Pohon Perindang Jalan, Burung Kokokan vs Tiang Listrik PLN di Bali

Kadek Fendy Sutrisna

19 Agustus 2012

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Suatu desa di daerah Gianyar-Bali, terkenal sebagai habitat burung bangau putih (kokokan). Burung kokokan di desa ini menjadi ikon pariwisata yang memberikan banyak penghasilan untuk pemerintah daerah setempat, baik itu berupa kerajinan ukiran burung kokokan, lukisan, dan bermacam-macam kerajinan tangan lainnya. Burung kokokan ini telah menjadi magnet pariwisata yang membuat para wisatawan jadi ingin menginap di desa tersebut agar dapat menyaksikan burung kokokan itu dari petang hingga pagi hari secara langsung.

Burung Kokokan

Burung Kokokan

Bunyi serak “keroak-keroak-keroak” biasanya ramai setiap menjelang petang. Jadi kalau wisatawan jalan-jalan di desa itu pada siang hari, tidak akan bisa menyaksikan burung tersebut langsung, hanya tersisa kotoran dan bulu-bulu nya saja yang berguguran. Burung kokokan biasanya bermalam dan berkembang biak di pohon-pohon yang rindang, tinggi, dan besar. Biasanya banyak terdapat di tepi jalan yang lurus menuju Desa Petulu, Ubud.  

Papan selamat datang di Desa Petulu – Ubud

Dilema muncul saat PLN berencana memasang tiang-tiang listrik di sepanjang jalan menuju desa. Pohon-pohon besar banyak di tebang karena PLN tidak mau mengambil resiko gangguan saluran akibat ranting-ranting pohon yang menyentuh kawat listrik. Jadi daerah di sekitar jaringan listrik yang dipasang PLN harus bebas dari pohon-pohon yang rindang.

Yaa, pohon-pohon harus ditebang, dan jelas masyarakat desa di Bali itu pada protes. Komentar mereka sudah bisa ditebak, jika pohon-pohon ditebang dimana bangau-bangau cantik dengan kaki jenjang itu akan tidur dan berkembang biak? Tentu mereka akan bermigrasi ke dusun lain. Artinya jika burung kokokan tersebut pergi, ikon wisata mereka akan hilang dan sudah pasti turis-turis akan malas ke desa tersebut.

Apa yang akan mereka lakukan apabila bangau-bangau hilang akibat pohon-pohon di tepi jalan menjadi gundul? tidak ada lagi turis yang datang berwisata? dan tentu masyarakat setempat jadi tidak bisa menjajakan langsung barang-barang seni kerajinan mereka. Artinya tiang listrik tersebut bukannya membuat kehidupan masyarakat sekitar menjadi lebih nyaman, tapi malah merusak lingkungan, membuat gundul pohon, mengusir burung-burung kokokan, dan sama artinya dengan mencekik masyarakat sekitar karena sumber nafkah mereka akan hilang.

Protes itu sempat berdengung kencang sama halnya dengan rencana PLN membangun pembangkit listrik geothermal di daerah wisata Bedugul. Orang-orang desa tersebut ada yang memberi masukan gmana kalau tiang listrik tersebut jangan dipasak di tepi jalan desa, toh PLN tidak berencana membangun lampu penerangan jalan, jadi bisa dialihkan ke belakang desa melalui persawahan. Kalaupun ingin masang lampu penerang jalan, gmana kalau pakai lampu tenaga surya saja, jadi cocok dengan konsep pariwisata Bali yang ramah lingkungan.

Ternyata protes hanyalah menjadi protes, protes tetap tidak bisa dipenuhin. Dugaan saya barangkali proyek ini sudah terlanjur direncanakan dan disepakati bersama segala halnya, jadi pemborong susah untuk mengalihkan tiang listrik ke daerah persawahan. Dari segi bisnis mungkin proyek itu menjadi tidak feasible dan susah untuk memenuhi tuntutan masyarakat desa saat PLN mulai mempromosikan proyeknya ke lapangan.

Akhirnya proyek pemasangan tiang listrik itu tetap dijalankan, tiang-tiang listrik pun dipancangkan di tepi jalan dan pohon-pohon besar pun ditebang. Masyarakat tetap protes hingga berujung jalan kekerasan. Petugas keamanan, tentara, dan polisi terpaksa membantu PLN berjaga-jaga agar penebangan pohon berlangsung lancar.

Apakah penduduk merasa diuntungkan dengan proyek PLN tersebut? Jawabannya sudah pasti tidak, yang ada mungkin hanya kesedihan yang terpendam di dada setiap penduduk walaupun sebenarnya kita tahu pemerintah dan PLN bermaksud baik dengan pengadaan proyek tiang listrik tersebut. Walaupun pada akhirnya penduduk desa setempat masih bisa mencari nafkah dari pariwisata hingga saat ini, namun kebebasan mereka untuk membangun daerahnya dengan cara mereka sendiri sudah tidak merdeka lagi.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita di masa depan. Ayoo.. Dari sekarang mulai merancang proyek pembangunan negeri ini berdasarkan lingkungan dengan berpikir di bidang yang lebih luas lagi untuk tujuan jangka panjang.

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Menerima jasa Konsultasi Studi Kelayakan (Feasibility Study, FS) untuk proyek Pembangkit Listrik, konsultansi meliputi pemilihan lokasi pembangunan pembangkit listrik, studi perhitungan daya dan energi listrik, studi sistem kelistrikan, membuat estimasi biaya pembangunan pembangkit listrik mencakup analisis harga satuan pekerjaan sipil, peralatan elektrikal-mekanik, peralatan jaringan transmisi-distribusi-instalasi rumah, pajak serta biaya pengembangan; memperkirakan komponen biaya operasional (fixed & variable O&M Cost); menghitung harga tarif yang tepat, analisa finansial, dan mematangkan segala langkah pembangunan dan operasional proyek pembangunan pembangkit listrik.
WA/Line : 0813378-01378,
Email : ir.fendysutrisna@gmail.com

 

Baca juga artikel lainnya tentang Bali :

  1. Sepenggal Catatan Tentang Liburan di Bali
  2. Penyebab dan Langkah Pencegahan Banjir di Bali
  3. Inkubator Wirausaha di Bali
  4. Sekilas Tentang Geothermal Bali
  5. Permasalahan Yang Perlu Menjadi Perhatian Publik Bali
  6. Pohon Perindang Jalan, Burung Kokokan vs Tiang Listrik PLN di Bali
  7. Hal-hal yang harus diperjuangkan publik Bali
  8. 5 Saran Untuk Pembangunan Industri Pariwisata Bali

One thought on “Pohon Perindang Jalan, Burung Kokokan vs Tiang Listrik PLN di Bali

  1. Iya dek, sekarang ini makin jarang pembangunan yang memperhitungkan kondisi sosial budaya masyarakatnya, mestinya bisa diselaraskan. Dan itu yg selama ini aku kagumi dari Bali, yg bisa menjaga keselarasan antara pembangunan dan sosial budayanya. Tapi sekarang udah mulai berubah yaa😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s