Permasalahan-permasalahan Kelistrikan Indonesia


Permasalahan-permasalahan Kelistrikan Indonesia

Kadek Fendy Sutrisna

27 Juni 2014

Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna

Pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan tarif listrik per 1 juli 2014 hingga November 2014. Di satu sisi, dirut PLN, Nur Pamudji, mengatakan bahwa kenaikan tarif listrik dapat mengurangi subsidi listrik negara dan memperbaiki struktur pendapatan PLN. PLN berjanji akan mempercepat proses pembangunan infrastruktur kelistrikan dan infrastruktur pendukung lainnya khususnya di daerah yang selama ini belum menikmati listrik. Tabel 1 menunjukkan daftar kondisi pendapatan ekonomi, % rasio elektrifikasi, dan jumlah penduduk tanpa listrik masing-masing daerah di Indonesia. Dari tabel tersebut, menurut hemat saya, PLN sebaiknya lebih memfokuskan untuk membangun infrastruktur kelistrikan di daerah dengan rasio elektrifikasi dan pendapatan daerah yang rendah.

Tarif listrik Indonesia saat ini sudah termasuk yang mahal apabila dibadingkan dengan negara ASEAN lainnya (gambar 1). Jadi PLN seharusnya lebih serius mengatur strategi dalam membangun infrastruktur kelistrikan, dimana jangan sampai ada lagi pembangkit listrik dan infrastruktur lainnya yang sudah dibangun dengan dana yang besar namun tidak bisa beroperasi sesuai dengan jadwal operasinya dengan berbagai alasan apapun seperti yang sering terjadi saat ini. Harus ada jaminan kualitas agar kedepannya kerugian PLN tidak bertambah besar.

Artikel berikut saya coba paparkan masalah-masalah yang dihadapi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi listrik masyarakatnya selain membangun pembangkit-pembangkit listrik kapasitas besar sesegera mungkin. Semoga bisa menjadi referensi.

Tabel 1 Ekonomi daerah dan Ketenagalistrikan Indonesia per provinsi 2009/2010

Gambar 1 Interval tarif listrik negara ASEAN (http://talkenergy.files.wordpress.com/)

Sumber lainnya dari ESDM (detik.com) ntuk rumah tangga tarif listrik di negara-negara ASEAN per Mei 2014 antara lain:

  1. Vietnam : Rp 1.120/kWh, untuk bisnis besar Rp 1.305/kWh, untuk industri besar Rp 777/kWh
  2. Filipina: Rp 2.653/kWh, untuk bisnis besar Rp 1.607/kWh, untuk industri besar Rp 1.551/kWh
  3. Singapura: Rp 2.602/kWh, untuk bisnis besar Rp 1.843/kWh, untuk industri besar Rp 1.689/kWh
  4. Thailand: Rp 1.351/kWh, untuk bisnis besar Rp 1.114/kWh, untuk industri besar Rp 1.270/kWh
  5. Malaysia: Rp 1.374/kWh, untuk bisnis besar Rp 1.320/kWh, untuk industri besar Rp 1.066/kWh
  6. Indonesia: Rp 1.004/kWh, untuk bisnis besar Rp 1.166/kWh, untuk industri besar Rp 819/kWh

 

1. % Rasio Eletrifikasi yang masih rendah

GDP Indonesia termasuk yang 5 besar di ASEAN, seharusnya rasio elektrifikasi kita ada di angka 90% ke atas. Tabel 2 menunjukan data GDP vs rasio elektrifikasi negara-negara ASEAN. Hal ini lah PR besar untuk perkembangan kelistrikan Indonesia di masa depan.

Tabel 2 GDP vs Rasio Elektrifikasi negara-negara ASEAN

Photo: Ini adalah kondisi kelistrikan dan GDP per kapita negara-negara Asia Tenggara. Semoga bisa menjadi referensi

 

2. Jaringan Interkoneksi antar pulau di Indonesia (ASEAN grid)

Terhubungnya pulau-pulau di Indonesia dengan jaringan listrik interkoneksi merupakan syarat mutlak Indonesia untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam (hasil tambang energi primer dan energi alternatif) masing-masing daerah dan menghubungkan seluruh konsumen listrik yang ada di Indonesia sehingga mendapatkan sistem kelistrikan yang handal dan murah. Kekurangan energi listrik di suatu daerah dapat dipenuhi dengan kelebihan listrik di daerah lainnya. Hasil tambang batubara dan gas alam di suatu daerah bisa langsung dimanfaatkan untuk diubah ke energi listrik dengan membangun pembangkit listrik di mulut tambang sehingga biaya pokok produksi listrik dapat ditekan secara signifikan dan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk peningkatan kualitas energi di dalam negeri. (Mengurangi ekspor/impor dan meningkatkan nilai dari hasil tambang energi primer, mengurangi biaya transportasi pengiriman hasil tambang = energi murah)

Sayangnya kondisi geografis Indonesia yang unik yang berupa negara kepulauan (beribu pulau) tidak mudah untuk disatukan dengan grid skala besar. Saat ini hanya Pulau Jawa – Madura – Bali saja yang jaringan listriknya terhubung. Tidak ada satu negarapun yang dapat dijadikan contoh untuk membangun sistem jaringan interkoneksi di Indonesia karena Indonesia adalah satu-satunya negara kepulauan terbesar di dunia.

3. Jaringan Interkoneksi listrik arus searah (DC) untuk Indonesia

Untuk mewujudkan jaringan interkoneksi bawah laut, sistem transmisi arus searah (DC) merupakan keputusan yang tepat seperti proyek jaringan interkoneksi Jawa – Sumatra yang akan dibangun. Berikut saya rangkumkan keunggulan sistem jaringan bawah laut arus searah DC apabila dibandingan denga sistem arus bolak-balik AC :

a. Kabel DC lebih murah daripada kabel AC. Disamping itu sistem DC hanya memakai 1 kabel transmisi. Dibandingkan sistem AC yang harus memakai 3 atau 4 kabel transmisi.

b. Seperti terlihat pada gambar, untuk jaringan bawah laut yang jaraknya lebih dari 40 KM (OHL : 600 km), sistem DC lebih ekonomis dari sistem AC. Hal ini bisa menjadi solusi untuk mengkoneksikan pulau2 yang ada di Indonesia. 

c. Karena hanya menggunakan 1 kabel, untuk jaringan over head line, konstruksi infrastruktur kelistrikan sistem DC seperti menara/tower listrik menjadi lebih sederhana dan lebih aman untuk tegangan tinggi dibandingan sistem AC.

d. Tidak seperti sistem AC, perubahan beban yang besar secara tiba-tiba, tidak akan mengganggu kestabilan sistem. Dengan menggunakan teknologi elektronika daya, diharapkan sistem DC dapat juga memperbaiki kestabilan sistem kelistrikan secara keseluruhan; gangguan di Pulau Sumatra tidak akan mempengaruhi Pulau Jawa dan sebaliknya.

Gambar 2 HVDC vs HVAC (Break even distance)

Photo: Buat yang tanya kenapa sekarang ada lagi yang namanya "Transmisi DC", terutama die-hard Tesla fans, ini saya post perbandingan harga vs jaraknya untuk transmisi AC dan DC :D</p><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <p>Sebenernya perang AC-DC itu bukan perang mana yang lebih baik, bukan perang kaya vs miskin, pebisnis vs engineer</p><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <p>ini cuma masalah mana yang lebih tepat digunakan sebagai solusi untuk permasalahan yang beda2 :D</p><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <p>Jadi, sangat dekat : DC (transmisi data di HP, PC, alat2 elektronik lainnya), transmisi power jarak dekat ke jauh : AC, sangat jauh : DC lagi :D

Gambar 3 Rencana pembangunan jaringan interkoneksi Sumatra – Jawa

Photo: Ini adalah peta lokasi pembangunan jaringan interkoneksi Sumatra ke Jawa dengan menggunakan sistem HVDC</p><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <p>Selain mengurangi rugi-rugi jaringan bawah laut, sistem DC juga diharapkan dapat memperbaiki kestabilan sistem kelistrikan secara keseluruhan; gangguan di Pulau Sumatra tidak akan mempengaruhi Pulau Jawa dan sebaliknya dengan menggunakan teknologi elektronika daya tertentu.

 

 

4. Tingkat ekspor hasil tambang batubara dan gas alam yang semakin tinggi setiap tahunnya

Keterbatasan infrastruktur pendukung tambang secara umum seperti, jalan raya, pdam, infrastruktur kelistrikan, pelabuhan, kereta api, dan izin tambang yang rumit membuat  industri tambang lokal lebih memilih untuk mengekspor hasil tambang karena dari sisi ekonomi lebih menguntungkan (biaya kirim lebih mahal apabila mendistribusikan hasil tambang ke dalam negeri). Langkah khusus (cara biasa sudah tidak mungkin dipakai) harus diambil pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini.

Saat ini pemerintah menggunakan kebijakan (seperti kebijakan energi mix 2025, dan Domestic Market Obligation (DMO) untuk mengatur pemilik tambang untuk menjual sebagian hasil tambangnya untuk kebutuhan dalam negeri. Dengan demikian diharapkan batubara Indonesia dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Indonesia.

PLN merupakan konsumen terbesar batubara Indonesia yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik, yaitu sebesar 57.2 juta ton, dan produsen listrik swasta mendapat jatah sebesar 10.76 juta ton, selain dimanfaatkan juga untuk kebutuhan industri lain (semen(8.4 juta ton), pupuk(1.3 juta ton), tekstil(1.93juta ton), pulp(600 ribu ton).

Untuk pendukung industri para penambang batubara dan gas alam lokal, saya tekankan disini, infrastruktur yang dapat mengurangi biaya produksi dan distribusi harus sesegera mungkin dibangun oleh pemerintah, dalam hal ini pemerintah dan PLN memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada pihak lainnya.

Gambar 4 Jumlah produksi, ekspor, dan penggunaan domestik hasil tambang batubara Indonesia

Displaying photo2.jpg

5. Mendukung industri dalam negeri yang dapat membuat pembangkit listrik energi terbarukan seperti tenaga angin dan tenaga surya menjadi lebih menguntungkan.

Salah satu jalan untuk meningkatkan penggunaan pembangkit listrik alternatif seperti tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin adalah pemerintah harus mengajak semua golongan untuk berupaya keras membuat komponen industri pendukung, seperti generator, turbin angin/air,  rangkaian elektronika daya, baterei dan lainnya menjadi lebih murah lagi atau membuat perusahaan asing memproduksi barangnya di dalam negeri.

 

6. Fasilitas pengangkutan batubara untuk pembangkit listrik

Pengangkutan batubara merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam proses pertambangan batubara. Pengangkutan batubara berkaitan dengan salah satu komponen pembiayaan dari suatu tambang. Suatu hasil tambang batubara bisa menjadi tidak layak tambang karena tidak memiliki jalur pengangkutan yang ekonomis terhadap harga jualnya. Di Kalimantan,direncanakan pada tahun 2020 akan dilakukan pembangunan sistem kereta api yang melalui sekitar 38 perusahaan batubara. Sistem kereta ini akan menuju ke bagian utara Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Upaya peningkatan kapasitas pelabuhan dan pembangunan trasnportasi juga sedang dikerjakan PT Bukit Asam (persero) Tbk. untuk pengangkutan di Pulau Sumatra. Dengan demikian, pembangunan pelabuhan baru hingga peningkatan kapasitas pelabuhan terus dilakukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan domestik batubara di Indonesia.

Gambar 5 Rencana pembangunan sistem kereta api di Kalimantan

Rencana pembangunan sistem kereta api di Kalimantan

 

Gambar 6 Terminnal batubara di Indonesia dan kapasitasnya dalam DWT (Blueprint Energy Nasional 2005)

Displaying photo1.jpg

Menerima jasa Konsultasi Studi Kelayakan (Feasibility Study, FS) untuk proyek Pembangkit Listrik, konsultansi meliputi pemilihan lokasi pembangunan pembangkit listrik, studi perhitungan daya dan energi listrik, studi sistem kelistrikan, membuat estimasi biaya pembangunan pembangkit listrik mencakup analisis harga satuan pekerjaan sipil, peralatan elektrikal-mekanik, peralatan jaringan transmisi-distribusi-instalasi rumah, pajak serta biaya pengembangan; memperkirakan komponen biaya operasional (fixed & variable O&M Cost); menghitung harga tarif yang tepat, analisa finansial, dan mematangkan segala langkah pembangunan dan operasional proyek pembangunan pembangkit listrik.
WA/Line : 0813378-01378,
Email : ir.fendysutrisna@gmail.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s